Harga Diri (Gambar Diri)

Posted on March 7, 2010

1


Harga Diri Menurut Ukuran Manusia

A. Penampilan

“Eh, gue nggak punya duit nih buat makan. Gue bisa pinjem duit loe ye…, soalnya gue kemaren habis beli baju. Keren abis, bo! Gue nggak tega ngeliat tuh baju mejeng sendirian. Gue kan baik! Hehehe!#*$??”

Pernah nggak denger komentar diatas? Masalah beginian nih paling kerasa dikalangan anak yang nge-kost. Tidak semuanya sih. Ada juga kok yang mampu bertanggung jawab atas uang bulanan yang dikirimin orangtuanya, tapi ada juga sebagian yang tidak bisa ngatur keuangannya. Sebenarnya mereka gak butuh-butuh amat dengan barang atau pakaian atau aksesoris lainnya. Tapi itu harus dibeli karena menurut mereka semuanya itu akan menaikkan harga diri mereka. Kata mereka sih “Demi gengsi, man!”

Ada istilah BKAK (Biar Kecekek (tercekik -red) Asal Keren), biarpun ukuran bajunya nggak enak dipake, tapi demi gaya tetep dipake juga. Di antara suku Minahasa di Sulawesi Utara, ada pepatah yang lumrah yang bunyinya: “Biar kalah nasi asal jangan kalah aksi.” Artinya, biar kelaparan yang penting gaya tetep OK. Pepatah tersebut memberikan gambaran bahwa kebutuhan pribadi bisa jadi bersumber dari penampilannya. Orang-orang yang sangat mementingkan penampilannya biasanya selalu menjadi korban iklan. Pengennya semua dicoba. Mereka akan puas setelah berhasil membeli atau mendapatkan apa yang menjadi keinginan hatinya. Barang yang semula sangat diinginkan biasanya tak lama kemudian menjadi barang usang, karena udah nggak model lagi. Biasanya sih orang-orang yang seperti ini sangat boros dan tak segan-segan ngeluarin uang banyak untuk merubah penampilannya.

B. Pandangan masyarakat

“…., nanti apa kata orang? Kan malu kalau semua orang tau!”

Setiap kita tidak akan pernah lepas dari penilaian orang lain. Setiap gerakan, aktivitas, bahkan penampilan kita selalu ditanggapi oleh orang-orang disekitar lingkungan kita. Mereka itu bisa keluarga sendiri, teman-teman, atau tetangga kita. Penilaian masyarakat akan menentukan apakah kita pantas diterima/dihormati atau tidak. Bila nilai kita buruk dimata masyarakat, biasanya diberi cap ’sampah masyarakat’. Tentunya tidak ada yang mau membawa cap ini dalam hidupnya. Setiap orang ingin dihormati. Dan untuk mendapatkan kehormatan ini, orang akan melakukan apa saja, bahkan bertindak secara berlebihan untuk mendapatkan simpatik dari masyarakat. Mereka cenderung berbohong untuk menutupi keadaan yang sebenarnya.

Dalam adat suku batak ada yang dikenal dengan upacara mangokkal holi. Itu loh, upacara penggalian kuburan nenek moyang, lalu tulangnya dibersihkan dan ditempatkan di suatu ruangan lain yang berbentuk tugu atau bangunan kecil seperti rumah. Dalam bangunan itulah dikumpulkan tulang-tulang nenek moyang mereka dari beberapa generasi. Untuk upacara ini dibutuhkan uang yang tidak sedikit. Bisa jutaan bahkan puluhan juta. Biasanya keluarga/keturunan  yang bisa ngadain upacara mangokkal holi, dianggap  terpandang oleh masyarakat. Semakin besar dan mahal pestanya semakin terhormatlah mereka dan ini membuat harga diri keluarga yang menyelenggarakan naik.

Contoh lain seperti hukum adat di Suku Bugis Makasar, Sulawesi Selatan, yang disebut hukum Siri. Kata Siri dalam bahasa Indonesia berarti malu. Salah satu contoh penerapan hukum Siri ini adalah bilamana seorang pria menolak atau tidak bertanggung jawab atas perbuatannya terhadap sang gadis. Keluarga pihak wanita dapat melakukan tindakan untuk mengambil nyawa si pria itu karena perbuatannya membuat keluarga wanita malu. Bagi suku ini, secara umum, harga diri terletak pada pandangan masyarakat yang baik  terhadap mereka.

C. Pendidikan

“Rajin-rajinlah belajar biar jadi  orang yang berhasil. Kalau kamu udah jadi sarjana atau insinyur, kan orang tuamu bisa bangga punya anak seperti kamu!”

Nasihat orang tua model beginian sudah sering kita dengar. Orang tua sangat mengharapkan keberhasilan dari anak-anaknya karena mereka adalah kebanggan dari orang tuanya. Khususnya bagi kaum intelektual, harga diri didasarkan atas tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikannya semakin terhormatlah mereka. Apalagi bila bisa meraih beberapa gelar. Karena itu sebagian orang akan berusaha memperoleh  pendidikan setinggi-tingginya untuk mendapatkan gelar dibelakang atau di depan nama mereka. Bahkan kadangkala mereka mengorbankan iman dan tata nilai yang baik demi memperoleh sehelai kertas ijazah.

Anak-anak, oleh orang tuanya, sedini mungkin harus mengikuti kursus ini itu. Ikut les bahasa atau musik. Alasannya agar anaknya nanti punya nilai lebih di mata masyarakat dan teman-temannya. Tuntutan untuk memperoleh pendidikan setingg-tingginya sering terjadi di negara-negara maju. Misalnya di negara Jepang, sejak kecil anak-anak sudah disibukkan dengan berbagai macam kursus atau les. . Persaingan yang ketat membuat anak-anak menjadi stres. Tidak heran semakin banyak kasus bunuh diri yang dilakukan oleh para remaja sekolahan, karena tidak sanggup menanggung beban moril dan mental yang di taruh di atas mereka.

Contoh lain adalah di antara masyarakat desa di Philipina, pendidikan sangat dihargai sehingga mereka cenderung untuk menggantung ijazah SMU atau bahkan sampai perguruan tinggi di rumah mereka. Tak usah jauh-jauh, di negara kita sendiri pun biasanya orang-orang yang pendidikannya tinggi cenderung lebih mudah mendapatkan pekerjaan daripada yang berpendidikan lebih rendah atau yang tidak pernah mengecap pendidikan sama sekali. Hal ini membuktikan bahwa bagi beberapa orang harga diri atau nama baik seseorang terletak pada tingkat pendidikannya.

D. Kedudukan atau jabatan

“Aku pengen jadi presiden biar banyak uang terus dihormati ama semua orang!” demikian komentar seorang anak ketika ditanya mengenai cita-citanya. Kebutuhan untuk dihormati sudah timbul sejak masa kanak-kanak. Seorang anak yang berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, perlahan-lahan akan mengakui  adanya suatu pengakuan terhadap status sosial dalam masyarakat. Gejala-gejala sosial yang ada dalam masyarakat akan merubah cara pandangnya. Salah satunya adalah bahwa orang yang memiliki jabatan atau kedudukan akan lebih dihormati daripada yang tidak sama sekali. Semakin tinggi jabatannya, maka akan disegani dan dihormati.

Contoh kecil yang mungkin masih kita ingat adalah permainan-permainan dimasa anak-anak. Dalam permainan berkelompok dibutuhkan seorang pemain atau hero. Misalnya pemainan follow the leader. Pemimpin berada ditengah-tengah lingkaran kemudian dia melakukan gerakan-gerakan yang harus diikuti oleh teman-temannya. Yang tidak mengikuti gerakannya akan dihukum.

Contoh lain dalam permainan lompat tali atau tali jalin. Talinya terbuat dari jalinan banyak karet. Ada dua orang yang memegang kedua ujung tali tali dan menggerakannya dengan gerakan berputar  dari atas ke bawah. Pemain dari kelompok lain akan akan melompat-lompat diatas  tali tersebut. Kalau yang mainnya jago dan tidak pernah salah, dia akan membela dan membantu teman-temannya yang gagal. Saat itu dia jadi hero bagi kelompoknya. Posisi yang bagus yang dimilikinya ketika bermain akan membuatnya exciting karena pada saat itu dia dihormati dan dihargai oleh teman-temannya.

Pengertian ini akan semakin bertambah ketika seorang anak beranjak dewasa. Bukan lagi sekedar dalam permainan, tapi juga dilingkungan sekolah bahkan sampai dilingkungan pekerjaan. Dalam lingkungan sekolah, biasanya ketua OSIS mempunyai banyak “fans” ketimbang yang lainnya. Ini disebabkan jabatannya memberikan nilai lebih. Begitu juga di lingkungan pekerjaan. Seorang pegawai biasa akan berusaha untuk meraih jabatan/posisi yang lebih tinggi. Dari pegawai biasa naik menjadi staff pegawai, lalu meningkat menjadi supervisor atau manajer, dan seterusnya. Kedudukan yang tinggi akan meningkatkan harga dirinya.

Ada suatu ungkapan yaitu, “kekuasaan itu dapat merusak seseorang, dan semakin besar kekuasaan seseorang semakin besar kerusakan yang dapat ditimbulkannya.” Memang benar bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar harga dirinya. Tetapi pencobaan yang dihadapi akan semakin lebih banyak dan berat pula. Untuk meraih kedudukan lebih tinggi, sudah bukan hal yang baru lagi bila didengar ada yang bermain politik untuk naik pangkat atau untuk mempertahankan kedudukannya. Cara-cara licik dan curang sudah jadi “barang halal” untuk mandapatkan jabatan yang tinggi. Istilah yang dipakai dalam Alkitab adalah “gila hormat”.

E. Uang

Walaupun uang hanya benda yang bentuknya kecil tapi mampu membuat manusia kalang kabut. Uang atau duit sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Segala sesuatu harus dibeli dengan uang. Dengan uang, semaunya akan beres dan lancar. Untuk memenuhi kebutuhan jasmani perlu uang. Untuk perkembangan pekerjaan Tuhan dan untuk penginjilan sedunia pun butuh uang. Bahkan untuk mati pun harus keluar uang. Orang mati, dikubur, kan butuh uang untuk beli tanah dan petinya. Dari kelahiran sampai kematian, uang memiliki peranan besar. Tidak heran, manusia sangat suka dengan uang. Uang sudah dijadikan ilah oleh kebanyakan orang dan mereka mendambakannya lebih dari Tuhan. Setiap hari kerja banting tulang untuk cari uang dan memupuk harta kekayaan. Semua pekerjaan dilakukan dengan alasan “money oriented”.

Musuh terbesar manusia jaman ini adalah cinta akan kekayaan dan harta benda. Manusia membiarkan dirinya diperhamba oleh materialisme. Mengapa? Karena pikirannya yang keliru tentang dasar harga dirinya. Makin banyak harta benda, makin merasa dihargai oleh teman-teman dam masyarakat. Karena hal inilah kejahatan semakin bertambah. Cara apapun akan dilakukan untuk mendapatkan uang. Menjual tubuhnya untuk mendapat segepok uang bukan hal yang asing lagi. Bandar judi semakin banyak. Mafia-mafia obat bius/narkoba terus merajalela tanpa memikirkan nasib generasi bangsa yang akan hancur karena perbuatannya. Manusia sudah jadi hamba uang. Uang adalah segala-galanya dan uang adalah tujuan hidup. “Cinta uang adalah akar dari segala kejahatan” tetapi juga “kekurangan uang adalah akar dari segala kejahatan”. Bila manusia mampu mendudukan uang pada porsi yang benar, yaitu hanya sebagai alat, maka manusia telah nenundukkan uang dengan segala kekuasaannya.

Kelima hal diatas jelas menunjukan bahwa manusia sangat membutuhkan pengakuan akan harga dirinya. Seakan-akan harga diri adalah kebutuhan dasar yang melebihi kebutuhan lainnya. Adalah wajar dan seharusnya setiap orang memiliki harga diri yang sehat. Tetapi persoalanya terletak pada objek atau sumber harga diri itu. Usaha manusia untuk menjadi berarti atau berharga justru membuatnya jadi lupa diri bahkan kehilangan identitas diri yang sebenarnya.

Guys! Tuhan tahu kalo kamu butuh semuanya itu. Masakan dia yang telah menciptakan kita tidak mengerti. Harga diri kita hanya dapat dipenuhi oleh Tuhan. Dengan mencari pujian dari orang lain dan sikap yang selalu mementingkan ego, berarti kita menipu diri sendiri. Pujian yang sejati berasal dari Allah. Dia tidak berbohong dan menipu kita atau sekedar membesar-besarkan hati kita. Tuhan yang juga adalah Bapa kita, memandang kita dengan terpesona karena kita adalah karyaNya yan paling indah.

Setiap kita ingin tampil sempurna dan tak bercacat cela dihadapan semua orang. Tapi saat kita mengetahui bahwa kita mempunyai beberapa kekurangan dan kelemahan, rasa kecewa dan takut pun mulai timbul. Kita menganggap bahwa kekurangan dan kelemahan kita adalah musuh. Hingga kita mulai memfokuskan perhatian pada kekurangan dan kelemahan yang kita miliki seakan-akan bila tidak diperhatikan ‘sang musuh’ akan merusak segalanya. Padahal karena kita terlalu memfokuskan perhatian pada kekurangan dan kelemahan kita, semuanya jadi hancur. Seperti pepatah yang mengatakan “karena nila setitik hancur susu sebelanga.” Jangan terlalu cepat mencap diri sebagai orang yang gagal hanya karena sedikit kesalahan yang kita lakukan. Rasa bersalah dan tertuduh itu merupakan tipuan si iblis. Iblus membuat kita percaya bahwa kesuksesan akan membaca kepuasan dan kebagahiaan. Dia memimpin dan membutakan kita dan menjadikan kita tawanan karena ketidakmampuan kita memenuhi standard-standard dunia.

Siapakah yang sempurna di dunia ini? Mengalami kegagalan adalah hal yang biasa, tetapi orang yang melihat kegagalan sebagai suatu kesempatan untuk meraih sukses, itu baru luar biasa. Kegagalan bukan berarti kita bodoh, tetapi kita telah mengalami cobaan iman. Kegagalan bukan berarti kita tidak mencapai apa-apa melainkan berarti kita telah belajar sesuatu. Kegagalan bukan berarti Tuhan telah meninggalkan kita, tetapi Tuhan telah merencanakan sesuatu yang mulia bagi kita. (dari majalah GFresh, anakmuda.net)

Posted in: ARTIKEL