IRON MAN: BANGKIT DARI KEMATIAN

Posted on May 8, 2008

1


Aku bukan penggila komik, dan tokoh Iron Man juga baru aku kenal belakangan ini, tapi begitu ada kabar kalo komik ini bakalan diangkat ke layar lebar, Iron Man adalah superhero yang patut ditonton sedikitnya dua kali di bioskop. Dan betul, rabu kemaren aku nonton untuk yang kedua kalinya. Hehe.

Jagat para penggemar komik banyak yang bingung… Kenapa harus Robert Downey Jr yang main sebagai Tony Stark/Iron Man? Secara umurnya udah 42 tahun en kata istri saya: nggak cakep, bo! Hehe. Downey Jr adalah actor peraih Oscar lewat perannya sebagai Charlie Chaplin dalam film Chaplin (1999). Sebelumnya, reputasinya rada-rada buruk gara-gara kecanduan obat-obatan terlarang dan alcohol, hingga harus keluar masuk rehab dan penjara. Makanya dia ngaku kalo tokoh Tony Stark cocok buat dia karena dia merasa punya pengalaman yang sama dengan Iron Man, keluar dari kesalahan hidup yang ia pilih.

Spoiler Alert! Emang apa kesalahan Tony Stark? Tokoh ciptaan Stan Lee dari Marvel Comics ini adalah seorang playboy jenius multimilyuner. Sejak muda dia udah menciptakan berbagai perangkat yang spektakuler, dan di masa remajanya ia bisa menciptakan senjata. Ayahnya adalah salah satu pencipta bom atom dan ikut serta mengalahkan Nazi. Tony mewarisi perusahaan pembuat senjata milik ayahnya: Stark Industries. Ia dianggap sebagai pahlawan karena dengan senjata-senjata mutakhir miliknya ia menciptakan ‘perdamaian’.

Karena terbiasa hidup mewah dan bekerja sendiri, ia sering menganggap remeh orang lain. Bagi banyak orang ia adalah pahlawan bangsa, karena ia membiayai berbagai penelitian biologi, kesehatan dan kemiskinan di negaranya. Tapi bagi beberapa yang lain ia ‘tak punya hati’ karena kekayaannya berasal dari ‘pembunuhan massal’ yang ia danai lewat supply alat-alat perang. “Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati.” (Amsal 16:2)

Tapi semua berubah dalam 3 bulan. Obadiah, rekan bisnisnya, ingin menguasai Stark Industries. Ia membayar teroris untuk membunuh Tony. Tapi karena sang teroris menyadari bahwa yang harus dibunuh adalah Tony, mereka berubah pikiran dan menyekp Tony di sebuah gua di Afganistan. Ia disuruh membuat senjata termutahir yang pernah Tony captain: The Jericho Missile, yang menggunakan teknologi reaktor repulsor.

Dalam penculikannya, Tony hampir kehilangan jantung (heart)-nya gara-gara bom ciptaannya sendiri. Ia menciptakan alat yang membuat jantung/heart-nya tetap berdetak dengan repulsor. Dan selama tiga bulan disekap, bukannya membuat The Jericho, ia malah membuat kostum robot yang membuatnya bisa kabur. Inilah cikal-bakal pakaian Iron Man.

Setelah itu Tony menemukan tujuan hidupnya: menolong dan melindungi yang lemah sebagai Iron Man. Ia menyadari kalo pekerjaannya telah membunuh banyak orang. Ia juga menemukan bahwa ada orang-orang yang setia sebagai sahabatnya yang selama ini ia anggap remeh. Hati/heart-nya telah berubah. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23).

SENJATA PALING MUTAKHIR
Pakaian Iron Man adalah senjata paling mutakhir. Negara yang punya selusin pakaian ini akan menguasai dunia, itu kata si teroris. Tapi, pakaian ini tak berfungsi tanpa reaktor repulsor yang ada dalam ‘hati’-nya Tony Stark. Obadiah menyadari itu dan mencurinya dan menyalahgunakannya untuk membuat pakaian ‘monster’.

Sama seperti pakaian Iron Man, Tuhan telah memberi macam-macam karunia dan kuasa kepada kita anak-anakNya. Tapi semua itu tergantung kepada hati kita, kita bisa menggunakan segala kuasa dan karunia yang sudah Tuhan kasih untuk menjadi ‘pahlawan’ atau ‘pembunuh massal’. Hati kita memancarkan kehidupan, makanya kita harus menjaganya, itu kata Tuhan. Kalo kita tidak menjaganya, maka bukan kehidupan yang akan terpancar, tapi kematian. Perkataan dan perbuatan kita bisa ‘membunuh’ orang lain dan itu datang dari hati kita. “Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” (Lukas 6:45b).

MENYIA-NYIAKAN HIDUP
Hidup Tony Stark pantas dihabisi, ia adalah ‘pembunuh massal’ dengan senjata-senjata ciptaannya, ia berfoya-foya, ia tidak peduli orang lain. Tapi Yinsen, seorang dokter yang menemaninya selama disekap teroris, telah menyelamatkan hidupnya dua kali: ia membuat jantung Tony tetap berdetak waktu kena pecahan bom dan terakhir ia mengorbankan nyawanya sendiri agar Tony bisa kabur. Kata-kata terakhirnya adalah: “…don’t waste your life!”, “…jangan sia-siakan hidupmu”. Buat Yinsen, hidup Tony sangat berharga, ia bisa melihat potensi besar jika Tony bisa berubah. Dengan kasih dan persahabatan yang ia jalin, Yinsen telah mengubah karakter Tony.

Kayak si Yinsen, Yesus adalah pribadi yang menemani kita dalam hidup kita menemukan tujuan. Bagi orang lain atau bahkan bagi diri kita sendiri mungkin hidup kita tak berarti, tapi bagi Yesus hidup kita sangat berharga. Kalo nggak, buat apa Dia rela mengorbankan nyawaNya agar kita ‘hidup’? Nah, apakah kita akan menyia-nyiakan hidup kita? Temukan tujuan hidup kita: untuk Tuhan dan menolong orang lain. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Lukas 10:27). (by FeryGFRESH! http://www.kacamata3d.blogspot.com/ STOP BELI BAJAKAN!)

HOME