BIBLICAL CASPIAN

Posted on June 8, 2008

8


Ada yang bilang buku The Chronicles of Narnia memang dibuat C.S.Lewis khusus untuk mengajarkan anak-anak tentang alkitab, meskipun ada juga yang bilang kalo hal itu baru ditambahkan olehnya setelah ceritanya jadi. Apapun, kayaknya kita semua setuju kalo cerita karangan C.S.Lewis ini memang kental dengan simbol kekristenan. Termasuk filmnya (mengingat ada beberapa perubahan yang dilakukan oleh produser). Dimulai seri ke satu: The Lion, the Witch and the Wardrobe, yang bercerita tentang pengorbanan Yesus menebus manusia dari dosa, kini Prince Caspian mengajarkan kita tentang iman.

Sinopsis: Setahun sudah sejak 4 bersaudara Peter, Susan, Edmund dan Lucy meninggalkan Narnia, tapi sekitar 1300 tahun berjalan di negeri Narnia. Narnia kembali mengalami perang dan kalah. Kaum manusia pendatang (telmarines) menjajahnya dan membuat penduduk Narnia ‘punah’. Ternyata mereka masih tersisa, dan Pangeran Caspian dari Telmarine tanpa sengaja memanggil keempat bersaudara ini kembali ke Narnia. Mereka harus memimpin Narnia merebut kembali tanahnya. Tapi Aslan, sang penguasa Narnia, menghilang.

SPIRITUAL SYMBOL
– Aslan: masih sama seperti di film pertamanya, Aslan adalah simbol dari Tuhan, Christ figure. Di film ini, tema besarnya adalah ‘mencari Aslan’, karenanya Aslan hanya muncul di bagian akhir. Menggambarkan pencarian manusia akan Tuhan dan pertolonganNya. Kadang Tuhan bersembunyi untuk menguji manusia.

“Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.” …. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. (2 Petrus 3:4-10)

Pangeran Caspian: dia adalah calon raja, tapi untuk menjadi raja ia harus melewati banyak rintangan. Menggambarkan bahwa segala sesuatu ada prosesnya dan motivasi dibalik kesuksesan. Dan seringkali proses itu panjang dan berat. Banyak pilihan harus dibuat. Dan Caspian sempat diuji motivasinya, apakah dendam (karena ayahnya dibunuh) atau ingin memulihkan negerinya.

Peter: seorang raja Narnia yang punya hati melayani. Ia bersedia melayani Pangeran Caspian. Menggambarkan servant leadership, kepemimpinan yang melayani. Tapi juga Peter menggambarkan iman yang lemah (karena tidak percaya bahwa Aslan masih ada) dan mengandalkan kekuatan manusia (ketika menyerang Telmarine tanpa mencari Aslan terlebih dahulu).

Susan: awalnya dia ketakutan akan semua yang terjadi. Tapi ketakutan itu dia ubah jadi kepercayaandiri.

Edmund: dalam film pertamanya, ia adalah sang pengkhianat. Tapi kali ini ia menebusnya dengan berjuang di jalan yang benar. Sama seperti Petrus yang menyangkal Yesus, tapi kemudian menebusnya dengan menjadi rasul yang berkuasa. Menggambarkan pertobatan yang berbuah.

Lucy: hanya dia yang yakin telah melihat Aslan (yang menghilang ratusan tahun), tapi ia harus bimbang karena tidak ada satupun yang percaya padanya. Lucy menggambarkan iman yang teguh yang pada akhirnya menyelamatkan semua. Karena keyakinannya pada Aslanlah yang membuat pertempuran yang tidak seimbang dapat dimenangkan. Ia harus teguh meyakinkan semua orang akan keberadaan Aslan. Lucy juga menggambarkan bahwa sekalipun dia yang paling kecil, tapi bersama Aslan, dia paling besar! (renungkan adegan Lucy menghadapi ribuan tentara Telmarine hanya dengan sebilah belati kecil, tapi dengan Aslan di belakangnya, pasukan itu tunggang langgang).

Trumpkin: dia adalah penduduk Narnia yang tersisa dari kaum dwarf, setelah menghilangnya Aslan, ia jadi skeptis dan pesimis. Menggambarkan kita yang mungkin sekian lama tak merasakan kehadiran Tuhan atau berpikir Tuhan itu tidak ada atau tidak adil. Pandangannya selalu pesimis dan selalu meremehkan hal rohani. Pada akhir cerita, Aslan mengaum padanya, menghapus segala ketidakpercayaannya.

Reepicheep: Bangsa tikus penduduk Narnia. Pejuang yang tangguh tapiu sombong. Ia selalu tersinggung jika ada yang meremehkan dia (karena dia seekor tikus) dan mengatakan dia lucu. Melambangkan kesombongan manusia akan kemampuannya. Ketika ia kehilangan buntutnya dalam perang, ia meminta Aslan untuk menumbuhkannya lagi karena ia malu kalo tidak punya buntut. Aslan bilang bahwa Reepicheep jangan memikirkan harga dirinya tetapi pikirkan kepentingan rakyatnya.

The White Witch: Penyihir Putih yang sudah dikalahka
n Aslan dan dikurung di tembok es. Ia muncul kembali dan ingin dibebaskan dengan menawarkan pembalasan dendam kepada Caspian dengan cara meminta darahnya. Menggambarkan ketika kita dikuasai dendam, iblis berusaha masuk dan mempengaruhi kita agar kita dikuasai olehnya.

RENUNGAN DARI KUTIPAN FILM

– Lucy bilang kalo ia melihat Aslan. Semua tidak ada yang percaya. Peter bilang ‘Kenapa saya tidak melihatnya?’. Lucy menjawab, “Mungkin karena kamu tidak mencarinya”.

Apakah Tuhan ada? Kenapa Dia tidak menampakan diri? Kenapa Tuhan diam saja? Kenapa Tuhan membiarkannya? Kenapa Tuhan tidak menolong? Dimana Tuhan? Mungkin pertanyaan serupa pernah kita tanyakan. Kenapa? Jawabannya mungkin karena kita tidak betul-betul mencariNya.

– Ketika tidak ada yang percaya bahwa Lucy melihat Aslan, Edmund bilang: “Terakhir kali aku tidak percaya pada Lucy, aku terlihat seperti orang bodoh”.

Edmund menggambarkan kita yang sebenarnya ingin percaya, tapi takut untuk melakukannya apa yang kita percayai. Ia sedikit percaya pada Lucy untuk mencari Aslan, tapi kemudian ia ikut dengan yang lain untuk menempuh jalan sendiri.

– Peter bilang, seandainya saja Aslan bisa memberikan semacam ‘bukti’ akan kehadirannya di hutan tempo hari. Lucy menjawab, “Mungkin justru kitalah yang harus membuktikan diri kita padanya”.

Kadang kita minta bukti akan keberadaan Tuhan, kemahakuasaanNya, kebaikanNya, mujizatnya, pertolonganNya, kehadiranNya. Tapi apakah kita sudah cukup bisa membuktikan diri kita padaNya? Mungkin kita juga bilang kalo kita percaya padaNya, tapi apakah Tuhan percaya pada kita?

“…banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya. Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan karena tidak perlu seorang pun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.” (Yohanes 2:23-25)

– Ketika Lucy bertemu dengan Aslan, Lucy bilang kalo Aslan terlihat lebih besar. Lalu Aslan menjawab, “Setiap tahun kamu bertumbuh, begitu juga dengan aku”. Versi bukunya bilang, “Setiap tahun kamu bertumbuh, kamu akan melihatku semakin besar”.

Semakin rohani kita bertumbuh, kita akan semakin menyadari bahwa Tuhan adalah segalanya. Tuhan akan semakin besar, dan kita akan jadi semakin kecil. “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yohanes 3:30). Sebaliknya jika kerohanian kita menurun, maka kitalah yang menjadi semakin ‘besar’ dan melupakan Tuhan.

– Ketika Lucy bertemu dengan Aslan dan bertanya kenapa Aslan tidak menolong penduduk Narnia seperti yang pernah dilakukannya dulu, Aslan menjawab “Tidak ada hal yang sama terjadi berulang”.

Pertolongan Tuhan sering kali tidak berpola. ‘Pengalaman’ bukanlah guru yang terbaik, bahkan kadang jadi guru yang buruk. Perjalanan hidup kita harus selalu minta petunjuk Tuhan, karena seringkali Tuhan punya rencana yang berbeda dari yang pernah kita alami sebelumnya. Sama kayak Daud yang harus selalu minta petunjuk Tuhan untuk berperang, Tuhan tak pernah memberikan strategi yang sama untuk menghadapi musuh yang berbeda. Suatu saat mungkin Tuhan memberikan jalan keluar A, tapi berikutnya sekalipun kasusnya sama tetapi Tuhan bias saja memberikan jalan keluar B, karena hanay Tuhan yang tau apa yang terbaik.

– Ketika Peter mengambil keputusan untuk menyerang Telmarine tanpa mencari dahulu Aslan, Lucy bertanya: “Kau melakukan ini untuk siapa?”

Seringkali kita seolah-olah melakukan kebenaran atau hal untuk kebaikan, tapi selidikilah motivasi terdalam kita. Apakah untuk memuliakan Tuhan atau memuliakan diri sendiri? Untuk menolong orang lain atau ego?

– Ketika tahta Narnia akan diberikan pada Caspian, dengan rendah hati Caspian bilang: “Aku pikir aku tidak pantas (untuk menjadi raja Narnia)” dan Aslan bilang, “Justru karena alasan itulah, saya tau kamu pantas”.

Kerendahanhati adalah tanda kita siap menjadi pemimpin yang baik. Yesus sendiri menekankan: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:26-28). (by FeryGFRESH! www.kacamata3d.blogspot.com, jangan beli bajakan!)
HOME