HARRY POTTER: SESAT OR JURUSELAMAT?

Posted on August 1, 2009

2


Buku pertamanya terjual lebih dari 400.000.000 copy dalam 65 bahasa dan terus bertambah di seluruh dunia. Buku terakhirnya (seri 7) terjual lebih dari 11.000.000 copy hanya dalam 24 jam. Belum lagi keuntungan yang didapat dari film sekitar Rp. 41,35 trilyun melebihi keuntungan 22 film James Bond dan 6 film Star Wars disatuin! En diberitakan Harry Potter udah bikin pengarangnya, J.K. Rowling, lebih kaya dari Ratu Elizabeth II. Tapi, bukan itu yang kita (orang Kristen) ributkan dari Harry Potter! Dia udah bikin anak Tuhan terbagi dua: yang bilang Harry Potter sesat dan yang bilang dia juruselamat. (F! http://www.kacamata3d.blogspot.com/)

SESAT!
Mantra, sapu terbang, bola kristal, tingkat sihir, astral project, ramuan pengubah bentuk, dan segala macam bentuk sihir lainnya dalam serial Harry Potter diadaptasi dari dunia sihir sebenarnya. Beberapa cuma ngarang, tapi tak sedikit yang asli, mengingat J.K. Rowling menyandang gelar S2 dalam Mitologi yang juga mendalami seluk beluk dunia sihir secara teori. Dunia sihir yang jelas ditentang oleh Tuhan dalam Alkitab dijadikan tema utama dalam Harry Potter. Itulah yang bikin gerah sebagian kalangan Kristen. Ia membuat anak kecil dan remaja mengenal dunia sihir, menganggap sihir sebagai sesuatu yang keren, dan mengandalkan sihir yang instan buat menyelesaikan masalah.

Tapi yang paling ‘menyesatkan’ dari Potter adalah tak ada Tuhan atau kuasa yang lebih tinggi dari diri sendiri disana. Potter hanya mengandalkan nuraninya dan pilihan pribadinya. Ia menginspirasi anak-anak untuk mengandalkan diri sendiri, bahwa kekuatan ada pada diri sendiri.

Semangat fasisme juga kental dalam Harry Potter. Ada dua ras yang membedakan, ras penyihir yang unggul dan ras muggle (manusia biasa non penyihir) yang lebih rendah dan nggak punya keistimewaan. Dan itu didasarkan pada kelahiran, bukan pilihan. Satu ras menganggap ras lain lebih rendah kastanya. Ini cikal bakal yang bisa memicu kejahatan ras yang pernah terjadi di dunia kayak Klu Klux Klan, Nazi, Tutsi dan Hutu di Rwanda dsb.

Selain itu, adegan yang terlalu menyeramkan dan brutal berserakan disana. Menghisap darah, memotong anggota tubuh, perkelahian, sumpah serapah dengan mantera, dan sebagainya, dikuatirkan mengajarkan hal yang nggak baik bagi imajinasi anak dan remaja.

JURUSELAMAT!
Sementara itu kalangan satunya lagi bilang kalo Potter bisa membuat anak dan remaja mengenal Kristus dan kekristenan. Cerita Harry Potter sarat dengan analogi kekristenan. Mulai dari selamatnya bayi Harry Potter dari kutukan maut Voldemort yang mengingatkan kita pada bayi Yesus yang selamat dari pembantaian Herodes, sampai kepada kematian Harry (dan kebangkitannya kembali) di King’s Cross yang mengingatkan kita pada pengorbanan Yesus di kayu salib. Ia mengorbankan nyawanya agar dunia sihir terlepas dari kutukan sihir Voldemort, tapi kemudian cinta ibunya membuatnya bangkit kembali. Itu adalah simbol parsial kematian dan kebangkitan Yesus untuk menyelamatkan dunia dari kutukan dosa.

J.K. Rowling yang berjemaat di Gereja Scottish Episcopalian juga menyampaikan nilai-nilai kebaikan vs kejahatan, persaudaraan, cinta, kesetiaan, dan persahabatan. Potter mempunyai kasih yang besar, ia tetap mengasihi keluarga Malfoy yang membenci dia, dan kekuatan itulah yang juga mengalahkan Voldemort.

Selain itu, demam Harry Potter udah bikin anak-anak dan remaja rajin membaca dan terinspirasi buat menulis.

JANGAN LEBAY AH!
Nggak usah lebay (berlebihan)! Buat kita (orang Indonesia) Harry Potter hanyalah tokoh khayalan. Apa bedanya sama si Nenek Sihir yang bawa apel beracun dalam dongeng The Snow White? Kenapa Harry Potter dikecam karena dia seorang penyihir sementara Jin Lampu Alladin yang bisa memberikan apapun dengan sihirnya nggak diapa-apain?

Ya memang patut dimaklumi, soalnya Harry menjadi tokoh utama, dan sihir dijadikan cerita utama, dibandingkan penyihir kayak Peri Biru dalam Pinokio, Ibu Peri sihir dalam Cinderella, Gandalf dalam The Lord of The Rings, The Witch dalam Narnia, dan seterusnya. Di Amrik, Harry Potter memang perlu dikuatirkan mengingat budaya mereka akrab dengan wicca, sihir, penyihir, satanisme atau gereja setan. Tapi buat kita gak perlu kuatir karena kita (orang Indonesia) nggak akrab dengan yang namanya sihir dan penyihir seperti yang diceritakan dalam Harry Potter. Dibanding Harry Potter, tokoh fiksi yang perlu dikuatirkan di Indonesia adalah Suster Ngesot atau Pocong dan kawan-kawan karena mereka dipercaya ada oleh kita, atau Jaelangkung karena dimainkan oleh remaja kita. Harry Potter? Ah sama aja kayak Mickey Mouse waktu dia berlagak jadi penyihir Merlin dalam film Fantasia.

TETAP WASPADA
Kamu suka Harry Potter? Gak usah pusing ama kontroversi. Tapi kita harus tetep waspada, karena Harry Potter memang memperkenalkan sihir sebagai sesuatu yang modern en keren sekalipun dalam bentuk fiksi. Ya, Harry memang fiksi, tapi sihir itu nyata.

“Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.” (Wahyu 21:8)

Menurut John Houghton, novel Harry Potter kurang baik dibaca oleh adik-adik kecil kita, hanya cocok buat anak diatas 11 tahun, apalagi mulai seri keempat, cerita Harry Potter makin bertambah ‘gelap’ dengan pertarungan yang baik dan yang jahat. Sebaiknya mereka diperkenalkan dengan cerita fantasi yang lebih ringan dan kental dengan kekristenan seperti The Chronicles of Narnia.

Buat kita, sebelum nonton or baca Harry Potter (atau film sejenis), sebaiknya tanyakan dulu beberapa hal berikut pada diri kita:

– Apakah kita kuat dalam firman Tuhan? Cintai, gali dan dalami Alkitab, sehingga kita tau mana yang bener dan mana yang salah. Nggak terombang-ambing dengan apa yang diceritakan novel/film. Misalnya, sekalipun sihir dijadikan alat kebaikan, firman Tuhan tegas mengatakan hal itu dosa.

– Apakah kita udah menyeleksi film-film yang akan kita tonton? Media (terutama audiovisual/film) akan dengan mudah membentuk pola pikir kita. Baca Matius 13:20-31. Terlalu banyak memasukkan sesuatu yang diragukan kebenarannya akan membuat ‘tanah’ dalam hati kita jadi ‘keras’ sehingga membuat benih firman Tuhan sudah tumbuh. Misalnya, ketika ada firman Tuhan yang bertentangan dengan nilai yang disampaikan dalam film, pikiran kita tanpa sadar akan menolaknya.

– Apakah kita udah kritis? Baca Roma 12:2. Renungkan, ambil pelajaran, diskusikan dan pertanyakan apa yang kita tonton. Misalnya, ketika Harry menyelesaikan setiap masalah dengan sihir apakah itu baik buat remaja? Ketika ada adegan memotong tubuh manusia buat dijadiin ramuan sihir itu pantas buat ditonton anak kecil? Dan sebagainya.

– Apakah kita selalu mengandalkan Tuhan lebih dibanding mengandalkan manusia? Baca Yesaya 31:1. Sekalipun Harry dengan kekuatan sihir dalam gen-nya membuat dia suka mengandalkan dirinya sendiri, jangan sampe kita juga ikut mengandalkan diri sendiri. Andalkan selalu Tuhan. (Yeremia 17:5).

– Apakah kita sudah intim dengan Tuhan? Baca Mazmur 25:12. Kalo kita bergaul dengan Tuhan, takut akan Dia, kita gak perlu lagi pusing apakah kita boleh nonton atau nggak. Kita bakalan tau sendiri dan Tuhan akan tunjukkan jalan yang lurus. Kita akan tau apa yan
g jadi kehendakNya buat kita dan apa yang baik buat kita sesuai firmanNya. Gak perlu lagi memusingkan diri sendiri dengan perkara duniawi.

HARRY PONARI
Taukah kamu, sejarah kelam kekristenan menorehkan kepahitan di kalangan ‘penyihir’ jaman dulu. Ayat di Keluaran 22:18 yang berbunyi “Seorang ahli sihir perempuan janganlah engkau biarkan hidup” pernah disalahtafsirkan dan membuat orang-orang yang ‘dicurigai’ sebagai penyihir dibakar hidup-hidup. Padahal hal itu bukanlah penyelesaian masalah. Yesus datang membawa penyelesaian. Ia membawa keselamatan, bukan hukuman. Penyihir atau orang yang terlibat okultisme bukanlah iblis yang perlu dibunuh, tapi justru untuk diselamatkan.

Selain itu, dunia perlu ‘penyihir-penyihir’. Masih ingat beberapa waktu yang lalu waktu seorang anak kecil bernama Ponari di Jombang, Jateng bikin histeria lantaran buka praktek ‘mujizat kesembuhan’? Massa berbondong-bondong dari segala penjuru karena mereka butuh ‘sihir’ buat menyembuhkan penyakitnya yang udah bikin mereka putus asa. Yesus datang membawa kesembuhan dan mujizat, dan Dia berjanji kalo kita bisa melakukan apa yang pernah Yesus lakukan bahkan lebih besar! Kitalah Harry Potter-Harry Potter-nya Tuhan, kitalah yang seharusnya jadi Ponari-Ponari-nya Tuhan. Menjadi jawaban bagi mereka yang membutuhkan. Menjadi penyembuh, menjadi pahlawan. Dengan begitu, dukun-dukun dan penyihir gak diperlukan lagi.

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu…” (Yohanes 14:12)

SEKILAS CERITA HARRY
Buat kita-kita yang agak-agak gak kenal sama Harry Potter, GF! bakal ceritain sekilas cerita Harry Potter dari awal sampe akhir.

Di dunia yang kita tinggalin sekarang ternyata ada juga penyihir. Para penyihir itu tinggal dengan cara menyamar. Nah, salah satu penyihir itu adalah James sama Lily Potter. Mereka berdua itu termasuk penyihir baik yang mau ngelawan penyihir jahat di bawah pimpinan Lord Voldemort.

Tapi mereka mesti menemui ajalnya di tangan Voldemort. Cuma sebelum mati, Lily sempat kasih mantera yang paling kuat yang bisa melindungi anaknya, Harry, dari serangan Voldemort. Gara-gara mantera Lily ini Harry selamat dari serangan Voldemort en Voldemort sendiri gak jelas nasibnya.

11 taun kemudian Harry udah gede, tapi dia gak pernah tau kalau dia itu penyihir atau cerita masa lalunya. Dia dititipkan ke paman bibinya yang bukan penyihir. Sampe suatu hari Harry dapat undangan buat sekolah di sekolah sihir Hogwarts, yang dulu jadi sekolahan ortunya.

Nah, mulai dari situlah petualangan Harry dimulai. Di Hogwarts dia kenal sama teman-teman barunya, Ron en Hermione. Bertiga mereka terlibat petualangan seru, berusaha menghalangi Voldermort yang berusaha bangkit en menguasai dunia lagi (sebenernya klise banget, ya).

Akhirnya setelah berjatuhan banyak korban selama 7 seri bukunya, Harry ketemu sama musuh besarnya, Voldemort di buku ke-7. Di pertarungan terakhir itu Harry menang. Tamat.