Gua Jeleeekk!! (Gambar Diri)

Posted on March 6, 2010

4


Pernah nggak pas ngaca liat muka sendiri di dalam cermin, lalu ngomong dalam hati: “Aduh, gue jelek banget! Kena kutukan apa sih? Emang Mama gue makan apa waktu ngandung gue?”, Atau pernah terlintas pikiran begini: “Dasar emang gue bego, tulalit, gemuk, jerawatan, kere, jomblo, idup lagi!”

Ups! What happen, guys?! Krisis pede, yach? OK, deh! Sekarang kamu maunya apa? Pengen ngerubah hidung yang pesek jadi mancung? Dunia bilang: “Tenang, ada operasi plastik”. Pengen ngelurusin rambut keriting? Dunia bilang, “Tenang, bisa dibayao kayak Hua Ce Lei!”. Atau pengen langsing? Dunia bilang, “Tenang, minum aja pilnya!”. Atau, biar tampil lebih menarik, beli aja baju en aksesoris yang sedang ngetrend, biar mahal asal keren!

Hmmm…. di jaman sekarang ini apapun bisa terjadi. Dunia bener-bener servis abis, deh! Tapi semuanya pakai money. “Emang kenapa?, duit-duit gua, rese amat sih lu!”. Yaa… biarpun kamu banyak duit, kamu nggak akan pernah bisa puas alias ngerasa dirinya kurang terus. Lebih parah orang yang uangnya pas-pasan, dapat uang dari mana? Nodong? Hi guys… sadar dikit, kamu nggak perlu jadi seperti orang lain, terimalah dirimu apa adanya.

GAMBAR DIRI YANG RUSAK

Kenapa gambar diri seseorang itu bisa rusak? Aku coba kasih beberapa contoh kasus yang aku ambil dari realitas kehidupan kita sehari-hari:

1. Salah tujuan hidup

Andi memaki Anto dengan sangat kasar karena jawaban Anto yang salah menyebabkan kekalahan group mereka. Andi memang selalu begitu. Dia begitu terobsesi dengan kemenangan dan kesuksesan dalam dirinya. Dia merasa dirinya berharga jika dia bisa membuktikan pada dunia bahwa dia bisa melakukan sesuatu yang hebat. Bahwa dunia gak bisa menganggap remeh dirinya. Memang dia telah membuktikannya dengan menjadi juara kelas dan bintang lapangan voli di sekolahnya, tapi sifatnya yang selalu ingin menang sendiri dan takut tersaingi oleh siapapun membuat dia dijauhi teman-temannya.

Sebenarnya sifat Andi yang seperti ini berakar dari keadaan keluarganya. Andi adalah seorang yatim piatu yang tinggal bersama kakeknya yang miskin yang sangat mengasihinya. Kakeknya masih berusaha bekerja di sebuah pabrik untuk membiayai hidup mereka meskipun tangannya sudah tidak terlalu cekatan lagi karena sudah termakan umur. Para buruh di pabrik yang tidak suka dengan hasil kerja kakek Andi yang tidak terlalu baik sering meremehkan si kakek dan  mengejek Andi sebagai anak yatim piatu yang tidak berharga. Andi terluka dengan hinaan dan ejekan itu. Dia berjanji pada dirinya sendiri jika dia besar nanti dia akan menjadi orang kaya yang sukses, apapun caranya.

2. Penelantaran orang tua

Mungkin dari luar Lisa kelihatan sangat bahagia. Orang tuanya adalah pengusaha sukses terpandang yang selalu memenuhi keinginannya secara materi. Lisa sendiri adalah seorang primadona kampus: cantik, kaya dan pintar. Tapi, di dalam hati Lisa selalu merasa kesepian dan haus akan perhatian orang lain. Dia merasa kesal karena orang tuanya lebih memprioritaskan pekerjaan mereka dibandingkan dirinya sendiri.

Dia berusaha menutupi kekecewaannya dengan terus pergi berbelanja, bersenang-senang dengan teman-temannya. Tapi yang dia dapat hanyalah kebahagiaan sementara. Barang – barang yang dimiliki tidak dapat memuaskannya, teman-temannya hanya dekat dengan dirinya karena kecantikannya dan kekayaannya. Di dalam dirinya sendiri Lisa merasa kosong dan gak berguna.

3. Pelecehan seksual

Rambut Via kusut. Dia masih gak mau makan. Sudah seminggu dia mengurung diri di kamarnya sejak tragedi itu terjadi. Minggu lalu, sekitar jam sebelas malam seorang laki-laki tidak bermoral telah memperkosanya sewaktu dia berjalan kaki pulang ke rumah. Via merasa dunianya telah runtuh, semua hancur berantakan. Segala sesuatu yang telah dia raih serasa tidak berarti lagi. Dia gak peduli lagi bahwa aksi sosial yang dia pimpin akan berlangsung 2 hari mendatang , dia gak mikirin lagi pernikahannya dengan Budi,tunangannya,  yang  akan dilangsungkan 6 bulan mendatang.

Yang Via rasain sekarang cuma rasa sakit, rasa kotor, rasa gak berarti… Dia merasa jijik sama dirinya sendiri. Dia merasa gak ada gunanya lagi dia hidup di dunia ini, dia merasa malu sama dirinya sendiri, dan terlebih lagi dia merasa malu dan gak berani menghadapi orang lain.

4. Kata-kata Negatif

“Kamu memang gak berguna, bisanya bikin susah orang doang! Mau jadi apa kamu nantinya? Dari sekarang aja cuma bisa buat masalah!!!” , caci ibu Leo. Biasanya Leo  akan melawan, membantah ucapan ibunya dan mengatakan bahwa sebenarnya dia berarti. Namun kali ini Leo diam saja karena terakhir kali dia menyahut, ibunya menjadi sangat marah dan menampar pipinya.

Tahun demi tahun berlalu dan Leo hidup dengan kepercayaan bahwa dirinya tidak berguna, cuma bisa bikin susah dan cari masalah. Leo tidak pernah mendapatkan pekerjaan tetap yang baik, karena selalu saja ada masalah di tempat kerjanya. Dan sedihnya, Leo menganggap semua hal ini wajar, karena dia adalah Leo, seseorang yang tidak berguna dan cuma bisa cari masalah.

5. Broken home family

Dina mengurung diri lagi di kamar dan kembali terisak seorang diri. Sudah sebulan berlalu setelah orang tuanya bercerai dan Dina gak pernah melewati satupun harinya tanpa menangis. Dina gak percaya bahwa ini benar-benar terjadi pada dirinya. Dina gak percaya bahwa orang tuanya benar-benar bercerai!

Dina mulai berpikir bahwa dialah penyebab perceraian ini, “Andaikan saja Dina menjadi anak yang lebih baik, gak suka melawan, lebih patuh lagi, mungkin perceraian ini bisa terelakkan, mungkin papa dan mama gak akan ribut sesering itu, mungkin mereka masih bisa tetap saling memaafkan dan berdamai lagi.”

Dina rindu,sangat rindu akan saat-saat dia bisa bercanda bebas dengan kedua orangtuanya, lengkap. Dina rindu apa rasanya memiliki sebuah keluarga yang utuh, ada papa dan ada mama, bukan cuma salah satu diantara mereka. Dan masih banyak lagi faktor-faktor lain  yang bisa menyebabkan rusaknya gambar diri seseorang. (dari majalah GFresh!)

Posted in: ARTIKEL