Perangkap Penampilan (Gambar Diri Rusak)

Posted on March 10, 2010

1


Inti dari semua penyebab gambar diri yang rusak ada empat. Keempatnya merupakan kepercayaaan yang salah tentang konsep gambar diri. Dari setiap contoh kasus yang sudah dipaparkan, mengarah pada keempat kepercayaan yang salah tersebut, salah satunya yakni: Perangkap penampilan

Mottonya: “Saya harus memenuhi standar-standar tertentu supaya saya merasa enak atau puas dengan diri sendiri”. Orang yang terperangkap dalam perangkap penampilan adalah orang-orang yang takut gagal. Akibat dari rasa “takut gagal” adalah sebagai berikut:

A. Perfeksionis

Perfeksionis adalah orang yang pengen segala sesuatu dilakukan dengan sempurna, sampai pada hal yang kecil sekalipun. Contoh seorang yang perfeksionis dalam Alkitab adalah Marta. Marta ingin melayani Yesus sesempurna mungkin, tetapi akhirnya hatinya penuh dengan kegusaran karena banyak hal yang tidak bisa ia selesaikan sekaligus. Seorang perfeksionis takut gagal. Karena ketakutannya itu, dia berusaha menetapkan suatu standar tertentu yang harus dicapai. Suatu standar dengan perincian yang sedetail-detailnya, yang akhirnya membuat dia hidup dalam lingkaran peraturan-peraturan yang dibuatnya sendiri. Dia mengira dengan demikian hidupnya akan lebih teratur dan kemungkinan untuk gagal tidak ada sama sekali. Tetapi pandangan tersebut keliru, justru seorang perfeksionis akan mendapat banyak kekecewaan karena ia akan mendapati bahwa dirinya sendiri tidak dapat melakukan segala sesuatu dengan sempurna. Akibatnya sering kali sukacitanya hilang karena hal-hal sepele. Mereka marah dan kesal pada diri sendiri, malah terkadang menyalahkan orang lain sebagai ‘kambing hitam’ kegagalan mereka. Pengalaman takut gagal dan rasa takut gagal yng selanjutnya dapat mengarah pada depresi yang dalam. Orang-orang yang belum mengalami kasih Kristus biasanya akan mencari pelarian dengan nge-drugs atau alkohol. Awalnya hanya sebagai pelarian sementara untuk menghilangkan tekanan, sampai akhirnya mereka menyadari bahwa mereka tidak mampu bertahan tanpa zat-zat kimia tersebut.

B. Gila sukses

Sukses adalah suatu hal yang baik, yang berarti bahwa kita berhasil. Orang-orang sukses berarti orang yang mampu mengatasi kesulitan dan mampu meraih apa yang diinginkannya. Semua orang ingin sukses. Tetapi, ada orang-orang yang keinginan untuk gagal. Orang yang sering mengalami keberhasilan dalam hidupnya cenderung merasa sombong dan selalu tertantang untuk mengejar hal-hal yang lebih hebat lagi. Mereka berkata, “Saya tidak boleh gagal” atau “Saya tidak akan pernah gagal”. Sebenarnya ungkapan itu menyiratkan bahwa mereka takut bila gagal. Manakala kegagalan itu datang, mereka tidak percaya itu bisa terjadi. Ereka tidak percaya bahwa mereka bisa gagal. Karena selama ini mereka menganggap dirinya manusia super.

C. Menghindari resiko

Ini adalah kebalikan dari orang-orang yang gila sukses. Sering kita melihat ada orang yang sebenarnya mampu, namun tidak pernah mau melakukan pekerjaan yang besar karena takut akan resikonya. Dia hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang di bawah kemampuannya. Kreativias, ekspresi diri, dan pelayanan kepada Allah, tidak bisa berkembang dengan baik. Dalam Alkitab, hal ini digambarkan pada perumpamaan tentang talenta (Matius 25:14-30). Seorang hamba yang telah diberi kepercayaan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya, namun menguburkan potensi (talenta) tersebut di dalam tanah, akhirnya dia dihukum dan dikatakan sebagai hamba “yang tidak berguna” (ayat 30). Orang-orang yang menghindari resiko adalah orang-orang yang penakut yang tidak suka mencoba hal-hal yang baru dan tidak pernah merasa tertantang. Karena itu mereka tidak pernah menjadi orang yang berhasil.

D. Memanipulasi orang lain demi kesuksesan

Ketakutan akan kegagalan memaksanya untuk “memberdayakan” orang lain demi kesuksesannya. Tidak peduli apa yang akan dialami orang lain akibat ambisinya itu.

Tuhan melayakkan setiap kita untuk masuk di hadiratNya tanpa perasaan bersalah, sebab Dia telah membuang semua pelanggaran kita. Kita bukan lagi orang yang terhukum melainkan kita sepenuhnya berkenan kepadaNya. Kita dibenarkan bukan karena usaha kita, melainkan karena kasih karunia Allah. (anakmuda.net)

Posted in: ARTIKEL