Soulmate: Ketika Pria dan Wanita Memilih Pasangan

Posted on April 23, 2010

1


Mitos 1: “Penampilan seorang laki-laki sama sekali tidak penting buat perempuan ketika memilih pasangan. Kalau laki-laki itu baik dan gigih, mau bagaimana pun penampilannya, semua perempuan pasti akan luluh  hatinya.”

(apalagi kalau ia datang naik mobil mewah dan setiap kali bertandang tidak lupa membawa oleh-oleh)

Mitos 2: “Buat laki-laki, prinsipnya adalah dari mata turun ke hati. Jadi kalau mereka memilih pasangan, pasti mereka akan mencari yang cantik karena buat mereka penampilan adalah kriteria nomer satu.”

(karena itu kosmetik pemutih kulit, krim anti kerut, dan obat pelangsing tubuh laku keras di pasaran)

Mitos 3: “Bagi perempuan, lebih baik dicintai daripada mencintai. Seiring berjalannya waktu, perempuan bisa belajar mengubah hatinya dan mulai mencintai laki-laki yang tadinya tidak ia sukai. Sementara sekali laki-laki menyukai seorang perempuan, selamanya ia tak akan berubah. Begitu pula sebaliknya, jika sejak awal ia tidak menyukai seseorang, ia tak akan pernah bisa belajar mengubah hatinya dan mulai mencintai orang itu.”

(No comment untuk yang satu ini. LIFEcrew pun sampai  TERKAGET-KAGET mendengarnya)

Diakui atau tidak, kita hidup dalam sebuah dunia yang dipenuhi mitos perbedaan laki-laki dan perempuan, termasuk ketika mereka memilih pasangan. Ada banyak mitos beredar mengenai perbedaan kriteria pasangan yang dicari oleh laki-laki dan perempuan. Sebagian kedengaran cukup logis, sebagian memancing senyum geli dan sebagian lagi menyebabkan kening berkerut dan nada suara meninggi, “Siapa bilang perempuan beranggapan seperti itu?” atau “Tidak semua laki-laki begitu. Aku tidak begitu!”

Untuk menggali lebih jauh mengenai perbedaan prioritas yang dicari laki-laki dan perempuan dari pasangannya, LIFEcrew telah menyebarkan angket kepada seratus empat orang responden laki-laki dan sembilan puluh delapan responden perempuan di Bandung dan Jakarta dengan usia antara 21 sampai 35 tahun. Responden diminta memilih kriteria-kriteria apa saja yang dianggap paling penting dalam memilih pasangan. Selain itu redaksi juga sempat melakukan bincang-bincang santai sambil minum teh sore dengan beberapa anggota kelompok Paduan Suara kontemporer “Glorify The Lord Ensemble(GTLE) di sebuah café di kota kembang Bandung, untuk mendiskusikan hasil angket tersebut.

RUBRIK ADAM

Dari hasil angket yang disebarkan kepada 104 responden kaum Adam diperoleh kesimpulan bahwa kriteria yang paling penting bagi laki-laki ketika memilih pasangan adalah sebagai berikut:

1. iman

2. penampilan dan sikap

3. kesamaan minat

4. level intelektualitas

5. level sosial ekonomi

Sambil bincang-bincang santai dan minum teh sore di sebuah café, Ivan Saba Jr (24) dan Tunggul (23) dari kelompok GTLE mencoba menganalisa urutan yang muncul dia atas.

  • 93 % responden menyatakan bahwa iman kerohanian adalah kriteria yang paling krusial dalam menentukan pasangan

“Itu memang kriteria nomor satu,” kata Ivan tanpa ragu-ragu, ”Harus satu iman dan satu agama.” Ivan yang sore itu tampil kasual dengan handuk putih membungkus kepalanya (supaya praktis tapi tetap trendy, akunya) menegaskan bahwa iman yang sama adalah fondasi untuk membangun sebuah hubungan yang kokoh. “Terutama untuk ke depan kalau nanti kita punya anak, misalnya,” tambah laki-laki yang berprofesi sebagai musisi itu. Rekannya, Tunggul (23), seorang mahasiswa, lebih menekankan pada efek dari kerohanian itu sendiri. “Kalau di dalamnya bagus, pasti di luarnya pun bagus. Jadi level kerohanian seseorang pasti kelihatan dari tingkah lakunya.”

  • 46 % responden memilih penampilan dan sikap

“Yang penting adalah cara pembawaan dirinya dia sehingga di mana pun dia berada bisa membawa suasana jadi menarik,” jelas Tunggul yang merasa kurang PeDe kalau jalan dengan orang yang tidak bisa bawa diri. “Penampilan yang enak dilihat itu penting tapi lebih penting lagi suasana yang nyaman,” Tunggul menambahkan sambil menyebut kriteria perempuan idealnya adalah yang proporsional. Ivan cenderung menyukai perempuan yang matang dan keibuan. “Sebetulnya pembawaan diri yang paling berpengaruh,” Ivan menegaskan kembali apa yang baru dikatakan Tunggul. “Misalnya, kalau musimnya makan di warteg, dia harus bisa makan di warteg. Tapi kalau harus makan di acara resmi, dia juga menguasai table manner.”

  • 38 % responden memilih kesamaan minat dan interest

“Dengan memiliki kesamaan minat dan interest, lebih gampang untuk kita fokus ke depan,” Ivan menjelaskan alasannya menempatkan kriteria ini sebagai nomor tiga terpenting, “Kalau minat kita beda, kemungkinannya kecil untuk bisa langgeng.” Minat pada seni adalah prasyarat yang mau tidak mau mesti dimiliki jika ingin menjadi pasangan Ivan. Hampir berkebalikan 180%, Tunggul justru menginginkan pasangan yang minat dan interest-nya sama sekali berbeda. “Kalau sama, malah bisa jadi jenuh. Aku selalu ingin tahu tentang hal-hal lain jadi kalau pasanganku punya minat dan interest yang beda, kita bisa sama-sama saling belajar hal baru.”

  • 34 % responden memilih kesetimbangan level pendidikan dan intelektualitas

“Cerdas berarti dia tahu bagaimana harus bersikap, punya cara berpikir yang dewasa dan bisa mengerti keadaanku,” Tunggul menguraikan jawabannya dengan lancar sementara Ivan mengaku tidak punya standar level pendidikan untuk pasangannya, “Yang penting wawasannya luas. Orang  yang berpendidikan belum tentu memiliki wawasan yang luas. Aku lebih suka ngobrol dengan lulusan SMP atau SMA tapi tahu banyak daripada lulusan universitas yang tidak tahu apa-apa.”

“Justru orang yang kerjanya sekolah melulu itu sepertinya adalah orang yang takut menghadapi dunia riil, kalau menurut aku lho,” tambah Tunggul lagi.

Ø  Dan hanya 15 % responden memilih kesetimbangan level sosial ekonomi

“Asal pasanganku mau hidup biasa-biasa, tidak ada masalah,” kata Tunggul yang tidak keberatan jika pasangannya punya penghasilan lebih tinggi selama hal itu tidak menjadikannya bersikap sok hebat. Untuk Ivan, yang penting pasangannya mau menerimanya apa adanya. “Tidak masalah kalau ternyata dia datang dari keluarga yang jauh lebih kaya dibanding aku,” kemudian sambil tertawa ia menambahkan, “Bukannya malah bagus?”

RUBRIK EVE

Sementara hasil angket kaum Hawa menampilkan perbedaan prioritas yang menjadi bahan perbincangan yang menarik di antara para anggota perempuan GTLE yang berkumpul sore itu: Santi (21), Nesti (27), Grace (30) dan Intan (27).

Prioritas kriteria seorang perempuan ketika memilih pasangan menurut hasil angket adalah sebagai berikut:

1. iman kerohanian

2. penampilan dan sikap

3. level intelektualitas

4. kesamaan minat

5. level sosial ekonomi

  • 89 % responden memilih iman kerohanian sebagai kriteria yang paling penting ketika menentukan pasangan.

Keempat gadis cantik ini dengan suara bulat mendukung pilihan pertama hasil angket yang diperoleh Get LIFE. “Tidak bisa ditoleransi, pasanganku harus anak Tuhan yang paham bahwa hidup ini adalah kasih karuniaNya,” kata Emmanuela Chrisanti Asterina Abednego yang akrab dipanggil Santi ini. Pendapat Santi didukung oleh rekannya, Yunesti Nugraheni Tyaswati yang sangat mementingkan kesamaan visi dan misi dalam
membangun rumah tangga. “Pernikahan itu, kan buat selama-lamanya.
Bagaimana bisa tahan kalau visi dan misinya beda?” Lebih lanjut Nesti menambahkan, “Punya pasangan yang seiman juga akan mengurangi resiko hal-hal buruk di kemudian hari, misalnya perceraian.” Sementara Intan yang berstatus mahasiswi percaya bahwa Firman Tuhan adalah landasan untuk membangun hubungan yang sehat.

  • 68 % responden memilih penampilan dan sikap

Grace yang berprofesi sebagai wiraswastawati berargumen bahwa penampilan yang dimaksud di sini bukan wajah atau fisik seorang laki-laki tapi lebih ke arah bagaimana ia bertingkah laku, berbicara, dan berpenampilan. “Cara ia berpakaian misalnya,” kata Grace, “bisa menunjukkan apakah ia memperlakukan dirinya sendiri dengan seenaknya atau ia bisa menghargai diri.” “Dan lewat cara bicaranya, kita bisa tahu bagaimana ia berhubungan dengan orang lain,” tambah Intan. Untuk Santi, pria idealnya haruslah seseorang yang tingkah lakunya mencerminkan teladan Yesus dan bisa menjadi berkat buat orang lain. “Tampang dan penampilan fisik, sih tidak masuk hitungan,” tambahnya yang dibenarkan oleh ketiga rekannya meskipun sambil tertawa akhirnya Grace mengakui bahwa cukup sulit baginya untuk menyukai seorang laki-laki yang tidak memenuhi kriteria idealnya: tinggi, putih, dan bertampang oriental.

  • 57 % responden memilih kesetimbangan tingkat pendidikan dan intelektualitas

Wawasan yang luas ternyata menduduki posisi yang lebih penting dari pada gelar akademik. “Mau lulusan SMP pun tidak masalah, asal cerdas,” kata Intan. “Selama orangnya punya wawasan dan nyambung kalau diajak bicara, titel akademik tidak masalah,” kata Santi yang menyukai laki-laki yang suka membaca. Tapi setelah dikorek lebih lanjut, ia dan Nesti mengakui bahwa pasangan mereka minimal harus lulusan S-1. “Kesannya aneh kalau pasanganku level pendidikannya kurang dari D-3,” Nesti mengakui sambil tertawa renyah. Sementara untuk Grace, pasangannya haruslah seseorang yang wawasan dan level pengetahuannya di atas dia, “Saya harus bisa look up to him karena saya orangnya suka bertukar pikiran dan senang mendapat masukan.”

  • 46 % memilih kesamaan minat dan interests

“Pokoknya pasanganku harus punya minat pada musik,” tegas Santi, “Kalau tidak, aku tidak mungkin jadian dengan dia.” Sementara Intan berharap mendapatkan pasangan yang punya hobi travelling dan punya kecintaan besar terhadap anak-anak muda seperti dirinya. Impiannya adalah melakukan pelayanan untuk anak-anak muda di berbagai kota bersama pasangannya. “Jadi bisa setahun di sini, setahun di sana,” katanya dengan mata berbinar,” Pastinya pasangan saya harus orang yang punya panggilan pelayanan yang sama dan berjiwa petualang.”

Grace mencari pasangan yang menyukai seni dan olahraga. “Rasanya aneh, ya, kalau cowok tidak suka olah raga,” cetusnya. Tapi buat Grace, masalah minat dan interest ini bukan hal yang terlalu krusial. “Kita, kan harus belajar menikmati kesenangan masing-masing. Saya akan mengajak dia olah raga dan menikmati seni, itu toh tidak ada ruginya. Tapi saya juga akan belajar menikmati apa yang dia suka, mengoleksi perangko misalnya.”

  • Dan 21 % menyatakan kesetimbangan level sosial ekonomi

Keempatnya sepakat menempatkan kriteria ini sebagai yang paling tidak penting dibandingkan kelima kriteria lainnya. Intan mengakui bahwa orang tuanya sempat mengingatkan bahwa sebaiknya ia memilih pasangan yang level ekonominya seimbang. “Jangan yang lebih kaya,” katanya, “jadi kita bisa saling menghargai.” Sementara Grace justru berharap tidak mendapat pasangan yang level sosial ekonominya lebih rendah. “Kasihan, kan, dia sebagai laki-laki kalau di-look down.” Tetapi mengenai pemenuhan kebutuhan atau jumlah penghasilan, hal itu sama sekali bukan masalah. “Yang penting punya niat untuk maju dan mau bekerja keras,” kata Santi meskipun ia mengakui bahwa ia juga mempertimbangkan faktor lingkungan sosial di mana pasangannya tumbuh dewasa. Dan Intan menutup bincang-bincang yang menyenangkan itu dengan mengingatkan, “Kita tidak usah kuatir untuk masalah finansial, Tuhan pasti akan mencukupkan segala kebutuhan kita.” ** (SL)