Sejarah Agama-Agama di Jepang

Posted on April 24, 2010

4


  • Shinto: secara harafiah berarti “jalan dewa”.  Hingga saat ini masih terjadi perdebatan apakah Shinto dapat diklasifikasikan sebagai agama atau kepercayaan, karena tidak adanya kredo (pernyataan keyakinan seperti halnya ‘Pengakuan Iman Rasuli’ jika di Kristen), tidak memiliki kitab suci, serta tidak melakukan kegiatan penyebaran agama (kegiatan misi). Pada dasarnya, Shinto merupakan kepercayaan orang-orang Jepang dengan upacara-upacara ritualnya yang bersifat animistik dan berhubungan dengan keilahian alam dan manusia. Menurut kepercayaan Shinto, Jepang merupakan negara dengan dewa-dewa yang tak terbilang banyaknya. Awalnya, Shinto merupakan alat untuk memohon pertolongan pada dewa-dewa dalam usaha pertanian dan perlindungan dari hal-hal yang jahat. Sebelum PD II, Kaisar Jepang dipandang sebagai kepala negara dan keturunan langsung  dari dewa tertinggi Shinto, yaitu dewa matahari (Amaterasu Oomikami). Tetapi setelah PD II, Kaisar mendeklarasikan dirinya sebagai manusia biasa yang peranannya lebih sebagai simbol pemersatu rakyat Jepang. Menurut TV- NHK pada tahun  1981 pemeluk Shinto berjumlah 3 persent dari total populasi.

  • Budha: secara resmi masuk ke Jepang dari kerajaan Paekche (Kudara di Korea) tahun 538, walaupun ada yang mengatakan sebenarnya agama Budha telah masuk jauh sebelumnya yaitu pada abad ke-5 lewat jalur Cina tengah dari India. Setelah masyarakat Jepang mengkonsolidasikan diri menjadi satu negara, mereka dengan cepat mengadopsi ajaran Budha. Akibatnya,  filosofi agama Budha berpengaruh kuat pada budaya dan filosofi Jepang. Sejak akhir abad ke-6, ajaran Budha merupakan kepercayaan utama bagi keluarga kekaisaran dan ‘clan’ (suku) yang berkuasa. Pangeran Shoutoku (574-622) adalah penganut agama Budha yang sangat kuat. Sebenarnya agama Budha mengajarkan pada penganutnya agar berperilaku baik semasa di dunia ini, agar dapat mencapai kebahagiaan dan memperoleh keselamatan di alam sana. Tetapi di Jepang, penganut agama Budha mengalihkan filosofi itu ke dalam sejenis ‘teologia kemakmuran’ sehingga doa-doanya lebih menjadi permohonan agar untung dalam bisnis, rumah tangga yang aman, berhasil ujian masuk sekolah, dan lain sebagainya. Pada tahun 1996 tercatat 62 juta pemeluk agama Budha di Jepang.

  • Kristen Katolik: masuk ke Jepang pada pertengahan abad 16 ketika kapal dagang Portugis mendarat di Tanegashima, di bagian selatan pulau Kyushu tahun 1543. Satu group misionaris Katolik dari mazhab Jesuit yang dipimpin oleh Franciskus Xaverius menyusul pada tahun 1549 dengan datang ke Nagasaki. Setelah ini  agama Kristen Katolik menyebar dengan cepat, bahkan seorang tuan tanah (daimyo) terkenal yang bernama Omura Sumitada dan 25 orang bawahannya dibaptis menjadi Katolik tahun 1563. Di bawah pengaruh daimyo ini, penganut agama Katolik berkembang pesat, sampai kuil Budha Shuntoku diubah menjadi gereja Todos os Santos.

Tetapi kebebasan memeluk agama Kristen Katolik ini tidak berlangsung lama karena pada tahun 1587, Toyotomi Hideyoshi, penguasa Jepang yang berhasil menyatukan negeri di jaman Azuchi Momoyama, melarang masuknya agama baru ini, karena kawatir akan kekuatan pengaruhnya. Tekanan terhadap agama Kristen Katolik semakin keras ketika Jepang dipimpin oleh Jendral Tokugawa Ieyasu di jaman Edo. Klimaksnya adalah ketika terjadi peristiwa pemberontakan oleh kalangan Katolik di Shimabara tahun 1637 yang di pimpin oleh Amakusa Shiro Tokisada. Sejak saat itu, Tokugawa memerintahkan penutupan negara Jepang dari dunia luar.

  • Kristen Protestan, satu-satunya celah pintu kontak dunia luar yang diijinkan adalah dengan para pedagang dari Belanda dan China, tapi dibatasi hanya  di pulau Dejima dekat pantai Nagasaki yang luasnya cuma 15.000 meter persegi.  Pedagang-pedagang Belanda membawa pengaruh budaya Eropa seperti teknologi, terutama di bidang kedokteran. Pada saat inilah agama Kristen Protestan mulai masuk ke Jepang, walau pelarangan terhadap penyebaran agama Kristen tetap berlangsung sampai tahun 1873, ketika pemerintahan kaisar Meiji menghapus pelarangan itu. Semasa pelarangan ini, api iman Kristen tidaklah padam karena dipertahankan oleh sekelompok kecil masyarakat secara sembunyi-sembunyi.  (Slyvia T. Mihira)