HI, ASL PLZ? (cerita pendek)

Posted on April 25, 2010

6


Hi, asl plz ?

17 f bdg, dengan cepat Jane mengetikkan jawaban atas pertanyaan yang baru aja diterimanya. Lalu ditekannya enter, dan tak lama kemudian percakapan yang dalam bahasa gaulnya disebut chatting itu pun berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang semakin membuat Jane betah tidak beranjak dari kursinya.

Padahal sudah hampir 2 jam dia duduk di depan komputernya dan gaul dengan internet dan menikmati chattingnya sepulang dari sekolah tadi. Tak diperdulikannya seragam putih abu-abunya yang masih melekat di tubuhnya juga perutnya yang sedari tadi belum diisi dengan barang satu sondok nasi pun.

“Non, Jane…. Makan dulu…..”

“Ah….!”Jane mengibaskan tangannya tak peduli. Air mukanya menunjukkan ketidak nyamanan karena merasa terusik.

“Nanti mama non Jane marah.”

“Biarin aja lah!” Jane menebas ucapan pembantunya tak sabaran.

“Nanti Non sakit…..”

“Uh! Biarin aja napa? Cerewet amat sih?” Hanya sebentar Jane mendelikkan matanya ke arah perempuan tua yang perhatian itu, lalu kembali menatap layar monitor, menunggu foto yang dikirim Andre, temen chat barunya yang dari Jakarta itu dengan harap-harap cemas. Cakep nggak yah?

Nah, rambutnya mulai keliatan, lalu jidatnya. Mulus juga….. lalu hidungnya. Waaah…. Mancung…, Jane berkomentar dalam hati sementara sang Bibi masih mengawasinya dengan harap-harap cemas. Sudah dua bulan belakangan ini nona manisnya ini susah diatur kalo sedang berada di depan komputernya. Dan menjadi tidak ramah saat menjawab. Memangnya apa sih yang dilakukannya itu? Sang Bibi hanya geleng-geleng kepala karena tidak mengerti teknologi itu.

Serius Jane melototin monitornya saat perlahan-lahan pic cowok itu terbuka…….

Waaaaaks! Cakep! Wah……… baru kali ini Jane merasa beruntung mendapat teman chat yang cakep dan langsung saja cerita-cerita manis teman-teman sekolahnya tentang temen-temen chating mereka yang kemudian berhasil jadian dengan mereka terngiang kembali.

Jane hanya senyum-senyum menatap foto cowok cakep di depannya.

“Non………”

“………”

“Non Jane….” Suara si Bibi terdengar sangat mendesak.

“…..”

“Jane!”
Waaaks! Mama! Jane terkesiap melihat mama yang sudah berkacak pinggang di pintu kamarnya.

“Sudah berapa kali mama bilang. Jangan main aja dong. Kamu kan harus belajar! Pasti kamu juga belum makan!” ucap mama yakin melihat baju seragam dan kaus kaki anak gadisnya yang masih melekat di tubuh mungilnya.

“Eh… Mama….” Jane tak mampu berkata-kata. Hanya cengengesan nggak karuan.

***

Ada pepatah “Biar anjing menggonggong, Kafilah tetap berlalu.” Buat Jane itu artinya, “Biar Mama marah-marah terus, chatingnya juga jalan terus!”

Gadis belia itu nggak kapok-kapok dimarahin, diceramahin ama Mama, bahkan diancam itu komputer nggak akan diconect ke internet lagi.

Biarin aja, pikir Jane. Toh bisa ke warnet.

Dan sudah 2 minggu dari pertemuan mayanya dengan Andre, mahasiswa arsitektur itu dan sudah 2 minggu ini juga hari-harinya terasa menyenangkan. Jane sendiri nggak bisa mengerti.                           Apa hanya wajah keren Andre yang mampu membuat ia jadi merasa sukacita terus? Atau ucapan dan janji-janji cowok itu? Dari ucapannya tampaknya cowok itu baik. Ia mampu membangkitkan semangat Jane tatkala Jane merasa gagal dalam ulangan umumnya dan Jane merasa kesal dengan beberapa temannya.

Andre juga yang memampukan Jane untuk kembali bergairah mengikuti Komsel dan kebaktian pemuda tatkala ia merasa bosan dengan Komsel dan kebaktian pemuda dan lebih memilih untuk mengahabiskan waktunya dengan chating.

Dan lebih dari itu… Andre janji akan mengunjunginya akhir pekan ini! Ini hari Kamis, Jane menghitung. Tinggal besok, dan Sabtunya, ia akan bisa bertemu dengan cowok pujaan hatinya., yang diakui Jane sebagai tambatan hatinya. Ia jatuh hati pada cowok itu pada pandangan pertama. Pandangan pertama pada foto cowok itu!

Tariska sudah memperingatkannya untuk tidak terlalu banyak berharap.

“Gua dapet kesan cowok itu cuman pengen sobatan ama elu, Jane. Itu aja! Jangan terlalu banyak berharap deh kalo lo nggak mau kecewa nantinya.”
Tapi telinga Jane sudah tertutup untuk saran seperti itu. Baginya bukan nggak mungkin hubungannya dengan Andre yang hanya via email dan telfon itu bisa berlanjut ke arah yang serius. Mungkin sepertinya ngayal. Tapi boleh donk?

***

Jane mondar-mandir dengan gelisah di ruang tamu sambil sesekali melirik ke jam tangan mungilnya. Andre janji datang jam 4, dan sekarang sudah jam 4 kurang 5 menit. Tapi nggak ada tanda-tanda kedatangan cowok itu.

Ia menghempaskan dirinya dengan kesal dan cemas ke kursi, membiarkan dirinya berpikir. Apa Andre nggak akan datang? Apa cowok itu hanya bercanda? Atau hanya ngisengin dia? Benak Jane dipenuhi dengan berbagai macam kemungkinan tidak enak yang diciptakannnya sendiri sehingga ia tidak sadar dengan suara mobil yang masuk ke pekarangan.

Ia baru sadar saat bel pintu berbunyi. Cepat dirapihkannya pakaiannya dan rambut sebahunya yang hitam legam.

Dengan perasaan nggak karuan dibukanya pintunya.

Andre? Jane langsung bisa mengenali wajah Andre yang ada di depannya. Imut, seperti yang difotonya. Tapi….

“Halo Jane….” Andre juga langsung bisa mengenali wajah manis Jane. “Apa kabar?”

“Ng… baik, baik,” dengan gugup Jane menyambut uluran tangan cowok itu.

Andre menoleh ke belakang dan menganggukkan kepalanya pada seorang pria setengah baya yang masih memegang bagian belakang kursi rodanya. Dan anggukan itu menjadi sebuah kode bagi pria itu untuk pergi.

“Kau tidak mempersilahkan aku masuk?” tanya Andre dengan suara empuknya, seempuk yang sering didengar Jane via kabel telfon.

“Eh… masuk…. masuk….” Jane melebarkan daun pintu dan membiarkan Andre masuk dengan mendorong kursi rodanya sementara Jane masih belum bisa mengatasi kekagetannya. Andre memang secakep yang difotonya, tapi cowok itu nggak bilang kalau dia cacat!

***

Jane menelungkupkan tubuhnya ke kasur. Kejadian beberapa jam yang lalu masih berputar dengan jelas di kepalanya.

Andre memang cakep, tapi dia cacat! Cowok itu duduk di kursi roda tanpa bisa memfungsikan kakinya yang katanya mati rasa saat kecelakaan dua tahun yang lalu di puncak bersama orang tuanya.

“Tapi aku masih bisa bersyukur,” masih terngiang ucapan Andre mengakhiri kisahnya, menjawab tanda tanya yang bisa jelas dibacanya pada wajah Jane.

“Bersyukur?” Jane tak habis mengerti mendengar penuturan cowok itu.

“Setidaknya aku masih hidup. Adik dan kedua orangtuaku tewas seketika.”

Adik dan orangtuanya meninggal, dia sebatang kara dan cacat, lalu dia bilang dia masih bisa bersyukur? Woooo……… Jane benar-benar tak bisa mengerti.

“Banyak hal yang harus aku hadapi sendiri. Pada mulanya aku juga merasa nggak kuat, tapi saat itulah aku melihat arti seorang teman itu. Mereka membangkitkan aku. Mereka ada untuk aku. Dan aku bisa bilang… walau apapun yang terjadi… Tuhan itu baik.”

?@#$%^&*???!!!??” Jane tak habis mengerti mendengar ucapan demi ucapan dari bibir cowok itu ditambah lagi ia tak begitu berminat mendengarkannya.

Baginya Andre hanyalah seorang pembohong. Kenapa dia nggak bilang kalo dia ternyata cacat? Kenapa dia membuat aku berharap terlalu tinggi?

Dan kenapa kau berharap banyak darinya? Toh dia tak menjanjikan apa-apa selain persahabatan. Iya kan? Ada sebuah suara lain di hatinya.

Tapi seandainya aku tau dia cacat…….

Kau bisa menghindar darinya? Kau tak mau berteman dengannya? Kau tak mau mendengar keluh kesahnya seperti yang kau janjikan padanya? Ah, betapa bersyaratnya kau Jane! Mana kasihmu?

Aku….Apa kau jijik padanya? Lihat dia Jane! Dia cacat, tapi dia masih bisa punya semangat hidup. Dia bisa kuliah, dia bisa meneruskan perusahaan Papanya. Dia bisa pelayanan. Dia bisa menghargai temannya dan dia bisa bilang Tuhan itu baik!

Erggghhh!!! Jane menggeram kesal. Ya, ya, ya itu benar. Di matanya keadaan Andre sangat tidak menguntungkan, tapi cowok itu masih bisa mengucap syukur. Bukan seperti dirinya yang selalu uring-uringan kalo ia merasa apa yang menjadi maunya dengan keinginan Mama bertentangan. Atau…. ia selalu marah-marah kalo teman-teman persekutuannya nggak mau diajak shoping dengan alasan macam-macam dan dia merasa mereka begitu sok rohani saat menasehatinya untuk nggak keranjinan chating dan mulai intim lagi ama Tuhan.

Oh! Jane merasa begitu banyak hal yang harus dibenahinya. Ia harus minta maaf pada Andre, harus minta maaf juga sama teman-temannya dan orangtuanya dan juga ama Tuhan……..

Pantas……pantas…….ia kehilangan damai sejahteranya. Itu saat dia mulai nggak mencari Tuhan lagi dan membiarkan suatu hal yang diluar Tuhan menguasai dirinya.

Tapi eh, apa gak boleh chat lagi yah kalo udah tobat? Dan Jane membiarkan otaknya kembali mengingat beberapa perkataan bijak yang pernah didengarnya, untuk melakukan apa yang berguna dan membangun dirinya. Kalo chating emang bisa dipakai untuk membangun dengan cara yang benar dan nggak menyingkirkan posisi Tuhan, kenapa nggak, ya Tuhan? Jane mencoba menawar.

Diambilnya gitarnya yang sudah mulai berdebu dari pojok kamar. Ia teringat satu lagu baru yang akhir-akhir ini sering didengarnya dan ia mulai memetikkan dawai gitarnya dengan penuh kerinduan.

Deeper in love with You…

Deeper in love with You…

……………………………

GFRESH! MAGAZINE

(eirene`s)

Advertisements
Posted in: CERPEN