Mr. Bisnismen vs Mr. Pendeta

Posted on May 1, 2010

0


Mr. Bisnismen vs Mr. Pendeta

Budi sangat mengasihi Tuhan dan ingin sekali melayani Dia dalam kehidupannya. Cuma saja, pekerjaannya sebagai staf di sebuah perusahaan konsultan asing menyebabkan Budi harus kerja ‘rodi’ sampai malam hampir setiap hari. “Aku betul-betul tidak punya waktu untuk pelayanan.” keluh Budi.

Keluhan Budi itu, menurut  L.T. Jayachendran, Direktur Eksekutif dari Ravi Zacharias International Ministries (Asia Pacific), merupakan akibat dari pandangan yang salah tentang konsep kerja dan melayani.

“Ada kesan seolah-olah pekerjaan di bidang sekuler  tidak rohani, sedangkan pekerjaan di bidang religius jauh lebih rohani. Itu namanya dikotomi (pandangan yang mendua –red) yang tidak Alkitabiah karena kita membatasi pekerjaan Tuhan di dalam setiap bidang kehidupan. Dalam bahasa Inggris, kata ‘vocation’ (yang artinya ‘pekerjaan’) berarti pula ‘panggilan untuk melayani’.  Jadi segala jenis pekerjaan, yang merupakan panggilan Tuhan untuk kita, merupakan pelayanan atau ibadah di depan Tuhan. Baik sebagai pegawai negeri, pengusaha, karyawan atau pun yang lainnya.

“Seringkali pekerjaan sekuler dianggap tidak rohani karena kita mengkaitkannya dengan ‘hukuman Tuhan’. Kejadian 3 memang menceritakan bagaimana Adam dihukum dan diharuskan untuk bekerja. Tapi kalau kita menyelidiki lebih lanjut dalam Kejadian 2, dikatakan bahwa Tuhan pun bekerja dengan kreatif untuk menciptakan bumi ini. Jadi ketika kita bekerja, kita sedang melakukan apa yang Tuhan juga lakukan.” kata L.T. yang sehari-harinya bekerja sebagai pembicara bidang apologetika  di berbagai negara di Asia Pasifik.

Penipuan Oleh Iblis

Sementara itu, Ed Silvoso – pendiri dan President Harvest Evangelism dalam bukunya “Diurapi untuk Dunia Bisnis” bahkan mengatakan dengan tegas bahwa Iblis telah menipu orang-orang Kristen dengan membuat kita percaya bahwa:

  • Kerajaan Allah adalah sesuatu yang hanya terjadi di masa yang akan datang, waktu Tuhan nanti mengangkat orang percaya
  • Gereja dan pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan di dalam gedung gereja saja
  • Dunia usaha adalah tempat yang penuh dengan Iblis dan harus dihindari.

Akibatnya menurut Silvoso, gereja dianggap sebagai aktifitas dalam gedung yang diikuti hanya beberapa jam saja di hari Minggu. Begitu keluar dari gedung gereja, maka seseorang merasa kembali ke dalam kehidupan sekuler.

Kurangnya Waktu & Kesempatan

Hendra Suhartanto – Konsultan Teknologi, menanggapi persoalan seputar dikotomi ini dengan mengatakan bahwa masalah utama kebanyakan profesional di bidang sekuler terletak pada kurangnya waktu untuk menyampaikan pesan Amanat Agung dalam pekerjaan sehari-hari.

“Saya merasa kurang adanya kesempatan yang luas untuk memberitakan Injil  ketika kita misalnya sedang membuat program komputer. Soalnya dalam menjalankan Amanat Agung yang ada di Matius 28:20 terdapat elemen pengajaran. Analoginya, kalau saya ingin mengajarkan suatu nilai kepada anak-anak di rumah,  tidak mungkin nilai-nilai itu bisa tertanam kalau saya hanya ada bersama mereka tanpa saya menyediakan waktu khusus untuk mengkomunikasikan nilai-nilai tersebut.” kata Hendra  yang berjemaat di JICF (Jakarta International Christian Fellowship).

Sementara itu Shirley Doornik, Sekretaris Eksekutif dari Lembaga Kajian ‘Demokrasi dan Hak Asasi Manusia’ tetap melihat bahwa dalam menjalankan Amanat Agung, yang lebih penting bukan kata-kata tapi keteladanan dari tindakan dan kemampuan orang tersebut di bidang ‘sekuler’.

“Contohnya Paul Marshall, dia adalah seorang yang aktif melayani di bidang dialog antar agama, tapi dia jauh lebih dihargai dan didengar karena dia juga seorang ilmuwan. Setidaknya dari pengalaman saya bertahun-tahun bekerja-sama dengan berbagai kalangan Kristen di Indonesia,  tampaknya keteladanan itulah yang lebih penting.” kata Shirley yang pernah bekerja cukup lama sebagai staf di Akademi Leimena ini.


Pasukan Gerilya Pelempar Injil

Titus – professional  ekspor furniture di Jakarta, melihat bahwa orang Kristen harus melaksanakan Amanat Agung (memperkenalkan Yesus sebagai Juruselamat), tapi juga Perintah Utama (mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia).

Itulah sebabnya mengapa konsep ‘bekerja’ yang salah dari orang Kristen perlu dibenahi.” kata Titus.

“Proses penciptaan dalam kitab Kejadian menjelaskan bahwa bekerja itu merupakan bagian dari identitas orang Kristen. Kita perlu bekerja supaya tidak cuma jadi pasukan gerilya yang melempar Injil kemana-mana, tapi tanpa bisa memberi dampak dalam kehidupan sehari-hari.  Kerajaan Allah itu berarti keselamatan, tapi juga refleksi dimana yang lemah dibela, dan yang sakit disembuhkan. Dalam konteks Indonesia yang sistemnya begitu korup, maka kita sebagai orang-orang Kristen yang akal budinya sudah diperbaharui harus bisa memperbaiki sistem yang korup atau yang memeras rakyat, dan membawa dampak yang nyata di tengah masyarakat” papar Titus dengan serius.

‘Grey Area’ dalam Berbisnis

Cuma masalahnya, dalam kehidupan nyata khususnya di Indonesia, pengertian bahwa pekerjaan sekuler pun merupakan panggilan untuk melayani, seringkali menyebabkan timbulnya dilema di seputar masalah etika. Dilema ini termasuk misalnya, memilih antara tidak mendapatkan order besar karena tidak mau KKN atau dapat order asal mau KKN, yang memang sudah dianggap super duper wajar di negara ini.

Menanggapi hal ini, Titus mengakui bahwa dalam berbisnis memang banyak grey area (daerah kelabu) yang harus dihadapi.

“Ketika masih kuliah di Amerika, saya banyak mempelajari soal Hak Asasi Manusia. Karena itu ketika balik ke Indonesia dan melihat ada perusahaan yang tidak mematuhi standar UMR misalnya, saya langsung berpikir mereka melanggar HAM.  Setelah saya selidiki lebih lanjut, ternyata masalahnya tidak sesederhana itu. Ada dimensi ekonomi, budaya, sosial, politik dan hukum yang secara kompleks membayangi kasus-kasus perburuhan di Indonesia, misalnya.” aku Titus.

“Karena itu sebagai profesional Kristen kita harus lebih sistematis dalam melakukan pendekatan dalam menghadapi masalah-masalah etika seperti ini. Saya pribadi berharap gereja-gereja di Indonesia dapat memfasilitasi jemaat untuk membahas dan menghadapi grey area ini.

Orang Kristen jangan cuma tampak hebat dan religius dalam menyanyi di kantata gereja, tapi ketika di kantor tidak bisa memberikan yang terbaik, tidak bisa menghadapi masalah etika dengan rekan bisnis atau pelanggan.” kata Titus yang selama ini memang aktif memfasilitasi forum-forum diskusi untuk  berbagai kelompok profesional Kristen, khususnya yang berada di daerah Jakarta dan sekitarnya. ** (GETLIFE – http://www.inspirasianda.com)