Nyanyian yang Mengubah Sejarah

Posted on May 6, 2010

0


Nyanyian yang Mengubah Sejarah

In age and feebleness extreme,
Who shall a helpless worm redeem?
Jesus, my only hope Thou art,
Strength of my failing flesh and heart,
O, could I catch a smile from Thee
And drop into eternity!

Lagu ini didiktekan oleh Charles Wesley, sang Pujangga Metodis kepada istrinya, sesaat sebelum sang pengarang menghembuskan nafasnya yang terakhir. Lagu terakhir ini melengkapi sekitar 6.500 lagu lainnya yang sudah ditulis seumur hidupnya.

Waktu itu Inggris sedang mengalami masa yang sulit. Korupsi dan kebejatan moral berlangsung dengan hebat. Revolusi industri baru dimulai sehingga terjadi perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Banyak orang tergoncang dan merasa tersingkirkan. Ketimpangan sosial terjadi dimana-mana. Sementara itu, ide-ide tentang pencerahan (enlightenment) dengan pandangan-pandangan yang menekankan rasionalisme, semakin populer.

Keadaan itu makin parah karena gereja menjadi dingin dan beku, tidak lagi memiliki antusiasme dan kehangatan. Belum lagi negara yang mengendalikan gereja dan membuatnya menjadi seperti panggung sandiwara.

Di saat seperti itulah, tepatnya tanggal 21 Mei 1738, Charles Wesley bertemu secara pribadi dengan Kristus. Pertemuan itu mengubah seluruh arti dan perjalanan hidupnya. Charles sadar bahwa selama ini ia hanya menjalankan kehidupan agamawi, tanpa mengenal Kristus secara pribadi sama sekali. Pada hari itu ia membuka Mazmur 40:4, “Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan.”

Tuhan menepati FirmanNya. Keesokan harinya Charles langsung  menulis lagunya yang pertama, yang diberi judul “And Can It Be?”

Lama sudah terpenjara rohku
Erat terikat dalam dosa dan malam alam
Mataku mengabur sinar berkelebat
Ku terbangun, penjara membara oleh cahya
Rantaiku luruh, hatiku bebas
Ku bangkit, berjalan dan mengikut Dikau

Tuhan mengurapi lagu-lagunya itu sehingga menembus hati orang-orang yang putus asa, tersingkirkan, dan dari kelas bawah yang tidak terjamah oleh Gereja Inggris, yang saat itu lebih mementingkan penampilan luar seseorang. Pada saat bersamaan, John Wesley (kakak Charles) pun mulai meraih orang-orang ‘terbuang’ ini lewat khotbah-khotbahnya. Kakak-beradik ini berkhotbah dan bernyanyi kepada orang-orang di penjara, di pertambangan, dan di lapangan terbuka.

Sejarah mencatat bahwa lagu-lagu Charles Wesley membuat gerakan kebangkitan rohani pada abad 18 menjadi sangat efektif karena berhasil mengubah kehidupan banyak orang. Nyanyian menjadi alat untuk mengajar Firman Tuhan dan mengekspresikan sukacita seperti yang ditekankan oleh Marthin Luther. Para ahli sejarah memperkirakan, kalau orang-orang Inggris tidak dijamah dan disentuh oleh gerakan ini, bukan tidak mungkin revolusi berdarah di Perancis terjadi juga di Inggris!

Semoga Tuhan membangkitkan para komposer, musisi dan penyanyi yang dapat mengubah sejarah Indonesia. ** (Henry Sujaya)