Go Wi-Fi dengan Tuhan!

Posted on June 5, 2010

1


LIFE-TECHNO

Go Wi-Fi dengan Tuhan!

Oleh: Merlyna Lim *)

Sekelompok arkeolog Jepang yang menggali daerah gunung Fuji berhasil menemukan sepotong kawat pada pada kedalaman 3000 meter di bawah permukaan tanah. Serta-merta mereka sampai pada kesimpulan bahwa pada tahun 3000 sebelum Masehi bangsa Jepang sudah memiliki teknologi telegraf.

Pemerintah Indonesia tidak mau kalah. Dikerahkanlah sejumlah arkeolog untuk menggali daerah seputar Borobudur dengan asumsi bahwa situs bersejarah ini merupakan tempat yang berperadaban paling tinggi. Pada kedalaman 3000 meter tidak ditemukan apapun. Penggalian diteruskan sampai kedalaman 5000 meter, namun tetap tidak diketemukan apapun. Tapi penggalian terus dilakukan sampai akhirnya dihentikan ketika pada pada kedalaman 7000 meter tetap tidak ditemukan apapun. Segera setelah itu, para arkeolog Indonesia memberikan pernyataan, “Pada tahun 7000 sebelum Masehi, Indonesia sudah memiliki teknologi WIRELESS!”

Cerita di atas cuma dongeng yang menghibur, tapi teknologi nirkabel (tanpa kabel) atau wireless memang sedang naik daun, apalagi dengan ditemukannya suatu teknologi internet yang disebut Wi-Fi. Dalam konferensi teknologi yang baru-baru ini diadakan oleh Wireless Internet Institute di markas besar PBB di New York, ketua PBB Kofi Annan mengeluarkan suatu pernyataan bahwa Wi-Fi bisa menjadi kunci bagi upaya mempersempit kesenjangan digital.

Pernyataan ini cukup masuk akal, karena jaringan nirkabel bisa memberikan akses Internet bagi komunitas berpopulasi tinggi dengan menghapus kebutuhan jaringan infrastruktur yang mahal. Di negara berkembang seperti di Indonesia, di mana infrastruktur telekomunikasi dan informasi tidak memadai, Wi-Fi dapat menjadi jawaban yang efektif untuk mempopulerkan teknologi internet.

Lagipula, pembangunan jaringan Wi-Fi cukup mudah dibanding teknologi alternatif lainnya. Cuma saja, peralatan yang dibutuhkan untuk menggunakan Wi-Fi tidaklah murah. Mohsen Khalil, direktur teknologi informasi dan komunikasi World Bank mengatakan bahwa popularitas teknologi ini bisa ‘menggoda’ para ‘penguasa teknologi’ untuk menentukan tarif yang tinggi bagi penggunaan teknologi ini.

Apa sih sebenarnya Wi-Fi itu?

Wi-Fi, atau Wireless Fidelity, adalah istilah bagi suatu produk atau layanan yang menggunakan 802.11 wireless networking protocol, yaitu alat yang bisa digunakan untuk jaringan komunikasi setempat (Local Area Network). Jaringan Wi-Fi beroperasi pada frekuensi radio 2.4 dan 5 Ghz dengan kecepatan 11 MB per detik atau bahkan 54 MB per detik! Kecepatan ini jauh lebih tinggi daripada ADSL atau modem kabel. Apalagi jika dibandingkan dengan modem dial-up (yang saat ini masih umum dipakai oleh masyarakat Indonesia) – yang kecepatan maksimumnya hanya 56 Kbps. Dibanding modem jenis terakhir ini, transmisi data oleh Wi Fi bisa 200-1000 kali lebih cepat.

Wi-Fi memungkinkan mobile devices seperti PDA atau laptop untuk mengirim dan menerima data secara nirkabel dari lokasi manapun. Bagaimana caranya? Titik akses pada lokasi Wi-Fi mentransmisikan sinyal RF (gelombang radio) ke perangkat yang dilengkapi Wi-Fi (laptop/PDA tadi) yang berada di dalam jangkauan titik akses, biasanya sekitar 100 meter. Kecepatan transmisi ditentukan oleh kecepatan saluran yang terhubung ke titik akses. Konsekuensinya, tentu saja bila saluran yang terhubung ke titik akses tidak bersih dari gangguan, transmisi akan terganggu.

Di dunia informatika, Wi-Fi biasa juga  disebut sebagai 802.11b, walaupun sebetulnya 802.11a pun termasuk Wi-Fi, hanya saja 802.11b lebih umum dipakai. Produsen hardware seperti  Apple Computer menjual kartu Wi-Fi sebagai ‘Apple Airport’. Tak mau kalah, Intel juga menyertakan fungsi Wi-Fi dalam prosesor Intel yang lebih dikenal di pasaran sebagai ‘Intel Centrino’.

Tanpa hambatan, tanpa kontrol, tanpa batas

Penulis mengalami sendiri asyiknya berWi-Fi-ria. Dengan menenteng laptop yang dilengkapi Wi-Fi card, penulis bisa terhubung ke Internet dari berbagai tempat, seperti di Bandara Changi di Singapura. Di tempat ini penulis dapat berselonjoran di salah satu ruang tunggunya sambil ber internet-ria. Tapi yang paling asyik adalah pengalaman di Hawaii. Sambil bersantai-santai di atas rumput di bawah pohon rindang, penulis dapat surfing (menjelajahi dunia cyber), menulis email, sambil sekaligus chatting dengan kecepatan transmisi data yang super kilat.

Selain kemudahan untuk membuat jaringan, Wi-Fi juga populer karena dengan menggunakan teknologi ini data dapat dikirim melalui frekuensi radio yang tidak dikontrol oleh pemerintah dan yang standar pengaturannya ditentukan bersama serta bersifat terbuka. Begitu populernya teknologi ini sehingga pada tahun 2002 diperkirakan sudah ada sekitar 2 juta pengguna dan kemungkinan tumbuh menjadi 20 juta pada tahun 2006. Ini baru di Amerika saja! Di Indonesia, konsorsium Wi-Fi Indonesia baru-baru ini meluncurkan layanan Wi-Fi di suatu mall di Jakarta dan tampaknya akan terus mengembangkannya di berbagai lokasi lain di ibu kota.

Yang paling menarik dari teknologi ini adalah kata kunci ‘tanpa’, termasuk tanpa kabel, tanpa hambatan, tanpa kontrol, tanpa batasan geografi. Dalam berkomunikasi hal-hal ini sangat penting, termasuk dalam komunikasi seorang Kristen dengan Tuhan. Seringkali kita berkomunikasi dengan Tuhan melalui berbagai macam ‘perantara’. Kita sering kali menggunakan ‘kabel’ pendeta, gereja, kelompok PA, dan sejumlah perantara lainnya. Padahal kita bisa go Wi-Fi dengan Tuhan tanpa perantara!

Beberapa orang memilih berkomunikasi dengan Tuhan hanya beberapa kali ketika menutup mata dan berdoa, mungkin hanya sebelum dan sesudah makan, atau sebelum melompat ke tempat tidur dan ketika bangun di pagi hari. Padahal hubungan dengan Tuhan tidak perlu ‘ruang’ dan ‘waktu’ tertentu; just go Wi-Fi anytime, anywhere!.

Tentu saja ada konsekuensi dari Wi-Fi: teknologi ini memerlukan peralatan yang canggih dan saluran gelombang yang bersih. Demikian juga hubungan Wi-Fi kita dengan Tuhan, hanya hati yang canggih dan bersih yang bisa ber-Wi-Fi secara optimum. Hati yang tercanggih dan terbersih adalah hati yang bisa menjadi mata air kasih, saluran kasih yang tak pernah kering.
Siapkah Anda untuk go Wi-Fi with God? Let’s start it today!**

*) Penulis adalah kandidat Ph.D  dari Technology & Society Studies di Universitas Twente – Belanda dan juga  anggota  Dewan Juri yang mewakili Indonesia dalam ‘World Summit Award’ (sebuah lembaga internasional yang memberikan penilaian terhadap isi dari berbagai produk multimedia terbaik di seluruh dunia).

Advertisements
Posted in: Uncategorized