THE KARATE KID FAIL

Posted on July 5, 2010

1


Oleh Fery Ferdiansyah

Kamu anak baru. Di sekolah gak punya temen. Boro-boro temen, yang ada kamu malah kena kasus bullying; dapet bogem mentah di muka tiap pulang sekolah, uang jajan abis dipalak, bekal makan siang hanya buat diambil orang. Life’s suck!

Lalu kamu ketemu guru karate (atau kungfu or pencak silat). Musik upbeat cepat mulai berkumandang, latihan sana-sini, sit up, lari turun naik tangga, angkat berat dikit, wax on-wax off, musik berhenti dan voila! ..kamu jadi jagoan tak terkalahkan.

Hmmm… andai hidup kayak dalam film The Karate Kid, atau film-film kungfu, tinju, gulat, dsb, yang punya potongan-potongan adegan latihan di tengah-tengah cerita. From zero, wuuuuzz.. jadi hero dalam satu kali take. But life is not that easy.

Christoper Paul Gardner. Kehidupan memusuhi dia. Gara-gara salah ambil keputusan, ia ditinggal istri, kehilangan pekerjaan, kena jerat utang, diusir dari kontrakan, sementara dia harus ngasih makan en ngurusin anak laki-lakinya yang kemudian bersama-sama menggelandang di kota besar sampai tidur di WC umum. Berbagai usaha dia lakukan untuk sekedar bisa makan atau berteduh.

Dan lihat bapak yang satu ini, rasanya kegagalan adalah bakatnya dia: 1831 bisnisnya gagal; 1832 mencoba peruntungan di dunia politik dan gagal di badan legislatif Amrik; 1833 bikin bisnis lagi dan bangkrut; 1839 ikut kontes pembicara dan gagal juga; 1943 gagal dipilih sebagai anggota kongres; 1848 coba lagi jadi anggota kongres dan gagal lagi; 1849 ditolak bekerja sebagai commissioner of the General Land Office; 1854 mencalonkan diri jadi senator Amrik dan gagal; 1856 dicalonkan menjadi wakil presiden Amrik dan gagal pula; 1858 kembali mencoba jadi senator yang kemudian –guess what- gagal! Wah, mati aja lu!

Belum lagi yang ini. Selama 25 tahun Yusuf harus mengalami penderitaan berantai: dimusuhi saudara, dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, difitnah, dipenjara. Padahal dia punya mimpi jadi pemimpin besar. Bayangkan, 25 tahun! Kalo kamu umur 15 sekarang, sampe umur 40 tahun kamu terus menderita.

Hidup penuh dengan kegagalan demi kegagalan, and sometimes, kita gak menemukan satupun celah pintu yang terbuka walau hanya sedikit. Yang ada hanya pilihan: tinggalkan atau terus terpuruk. Lalu kita berteriak: “Why, God?! Why!?” *sambil mengacungkan kepalan tangan di tengah hujan dengan background suara petir*. Lalu kita berpikir, bukankah lebih baik kalo kita punya semacam remote control dan pencet skip button atau pilih scene selection biar gak usah alami hal-hal yang nggak enak dan kegagalan?

No. No remote control. Sadar gak sadar, kegagalan dan hal-hal yang gak enak yang kita alami ternyata itu perlu. Why? Karena it all make us a better person!

– Gagal terus dan terus bisa melatih kesabaran kita dan akhirnya membentuk karakter baik kita. Kata nenek, orang sabar dikasihi Tuhan. Kata kakek, karakter yang baik dibentuk, bukan sekedar bawaan lahir.

– Mencoba lagi dan lagi akan menambah pengalaman dan mengasah skill en bakat kita. Liat aja lowongan pekerjaan, pasti ada tulisan ‘diutamakan yang berpengalaman’. Kata ortu makan asam garam itu penting.

– Dibatasi, dijegal dan ditekan itu bisa memicu kreatifitas. Kenapa iklan rokok selalu dapet penghargaan iklan terbagus? Karena mereka dibatasi dan ditekan gak boleh memperlihatkan produk rokok dalam setiap iklannya, so mereka tertantang untuk berkreasi di luar batas. Kata kartunis Scott Adams: “kreatifitas adalah mengijinkan dirimu sendiri untuk melakukan kesalahan.”

– Mengoptimalkan potensi. Apa potensimu? Darimana kamu tahu itu adalah potensimu kalo kamu gak mencobanya gara-gara takut gagal? Coba, gali, rasakan, temukan dan munculkan potensimu. Pablo Picasso bilang: “God is really another artist. He invented the giraffe, the elephant and the cat. He has no real style. He just goes on trying other things.”

– Sebagai jalan untuk melihat pilihan terbaik. Kadang pilihan terbaik ada di ujung jalan yang sama sekali tak terlihat karena terhalang tembok, pintu, rambu, batu, tukang baso, beruang, tirai, billboard dan penghalang-penghalang mata lainnya. Untuk mencapainya, kita hanya perlu melangkah, belok, jebol tembok, menyingkirkan batu, membuka pintu, bertanya pada tukang baso, merobek tirai, bergulat dengan beruang, melihat rambu dan menemukan tombol bel untuk membuka pintu pilihan terbaik, sekalipun itu artinya kita harus babak belur.

So, Mr.Han (Jackie Chan) kepada Dre (Jaden Smith) dalam The Karate Kid (2010) bilang: “Life will knock us down but we can choose to get back up”.

Oh iya, kalo kamu gak tau siapa Christoper Paul Gardner, kamu coba nonton film The Pursuit of Happyness yang diambil dari kisah nyata. Sekarang dia adalah seorang milyuner. Terus, bapak yang punya bakat gagal diatas, dia adalah Abraham Lincoln yang tahun 1960 dilantik menjadi Presiden Amrik ke-16 dan menjadi Presiden Amrik terhebat sepanjang masa. Yusuf? Kita tau semua kalo dia meraih mimpinya jadi pemimpin besar yang berkarakter besar! (F!)

Fery Ferdiansyah
Gagal jadi seleb gak bikin dia depresi, setidaknya jadi seleb youtube udah bikin dia hepi. Satu istri, satu balita dan dua kura-kura menemani sehari-harinya sebagai penulis dan chief editor sebuah majalah remaja Kristen. Seorang moviegoers, scifi-geek dan Jesus-freak sejati. Ingin baca pikirannya dia tentang film, hidup dan Tuhan? Kunjungi http://www.kacamata3d.blogspot.com.

Posted in: movie, RENUNGAN