DOA TIDAK AKAN SIA-SIA

Posted on July 10, 2010

0


Halo, namaku Lispridona Diner. Dulu, walau kami datang dari keluarga kristen, tapi papa masih suka ngerokok dan males ke gereja, berdoa, dan baca Alkitab. Kerjanya cuma cari uang, uang dan uang. Pokoknya uang di atas segalanya. Mama sering ke gereja, tapi kalau di rumah seringnya ngomel-ngomel dan ngegosip.

Sejak SMU aku kost, karena rumah dan sekolah letaknya berjauhan. Hal inilah yang membuat aku di luar kontrol orang tua. Aku bergaul dengan teman-teman yang suka ngerokok dan minum minuman keras, kerjaanku hanya ngeluyur, nonton, en pulang pagi. Karena sekolahku disiplin, nggak masuk satu hari saja,  bisa langsung manggil orang tua, makanya aku terpaksa masuk, walaupun ngantuk aku harus tetep ke sekolah. Setiap pelajaran nggak ada satu pun yang nyangkut di otakku.

Sebenernya aku tahu Yesus, tapi aku nggak kenal sama Dia. Aku ngecewain orang tua karena nilaiku tidak memenuhi syarat untuk masuk di kelas yang diharapkan. Aku menyalahkan Tuhan atas semua itu. Aku merasa hanya teman se-gank aja yang bisa menerima aku. Setelah lulus sekolah, aku ikutan UMPTN dan lulus di Universitas Negeri Manado (UNIMA) jurusan Bahasa Jepang.

Setelah beberapa bulan kuliah, aku diajak oleh seorang teman untuk mengikuti Bina Rohani yang diadakan oleh Unit Pelayanan Kerohanian di Fakultas. Aku coba-coba aja ikut, aku nggak nyangka kalau Roh Kudus betul-betul bekerja. Aku dilawat Tuhan, hatiku hancur dan menangis serta menerima Yesus sebagai Juruselamatku. Lalu temanku tadi menolongku dan menjadi pembina rohaniku.

Kini aku selalu mendoakan mama, papa dan adikku. Aku sempet putus asa ngedoain mereka, karena selama 2 tahun rasanya nggak ada perubahan dalam keluargaku. Tapi di saat aku pasrah dan benar-benar tak berdaya, aku sungguh berharap pada Tuhan, justru pada saat itulah aku dikuatkan. Tiba-tiba, aku dengar Papa berhenti total merokok, dan yang lebih dahyat, dia mau terima Yesus! Kini ia rajin ke gereja, berdoa dan baca Alkitab. Disusul oleh Mama nggak pernah lagi keluyuran tetapi tinggal di rumah mengurus keluarga. Kalo aku pulang ke kampungku, Papa dan Mama selalu mengajakku ke ibadah.

Puji Tuhan, adikkupun sekarang ini kuliah bersamaku. Sekarang pun ia sudah terima Yesus. Keluargaku semakin dipulihkan. Aku bersyukur, Papa kini sudah mengerti dan melakukan juga perpuluhan. Allah kita adalah Allah yang sellu menyediakan apa yang nggak pernah dilihat, didengar bahkan dipikirkan buat kita yang percaya padaNya.

Kalau saja dulu temanku yang jadi pembina rohaniku itu tidak mau peduli kepadaku, mungkin aku masih belum dipulihkan, dan dari pengalamanku aku ingin sampaikan bahwa jangan putus asa untuk berdoa, apalagi untuk keluarga kita.

Lispridona Diner

Tagged:
Posted in: INSPIRASI