BERSYUKUR – CERPEN

Posted on July 13, 2010


Bersyukur

Hampir saja gelas yang dipegang Mama jatuh gara-gara kaget oleh rengekan Lisa yang datang tiba-tiba, “Ma.. beliin Lisa handphone dong, temen-temen Lisa  udah pada punya, masa Lisa nggak punya!”.

“Nanti saja kalau Mama dapat berkat banyak, saat ini Mama lagi perlu biaya untuk membayar uang kuliah kakakmu.”

“Ah.. Mama terlalu perhitungan sama Lisa, kalau untuk kak Kevin aja semua Mama kasih.”

“Lisa itu kan beda, kuliah itu kan perlu. Semua kebutuhan sekolah kamu selalu Mama penuhi tapi kalau untuk hal lain akan Mama pertimbangkan dahulu. Ingat Lisa, kamu berbeda dengan teman-teman kamu yang lainnya. Kita tidaklah hidup dalam kelimpahan, tidak semua yang kamu inginkan dapat Mama penuhi. Kita tidak hidup kekurangan saja kita harus bersyukur. Kamu harus bisa belajar untuk selalu mengucap syukur. Tuhan tahu apa yang kamu perlukan dan Tuhan  pasti akan menyediakan.”

“Mama pelit banget sih jadi orang. Gimana mau diberkati kalau Mama sendiri pelit!”

“Lisa, Mama bukannya pelit. Kamu nggak tahu apa-apa, Lis!”

Lisa hanya dapat menggerutu. Memang sudah lama dia meminta mama membelikannya handphone, karena ia terpengaruh oleh teman-temannya.

“Kevin, Mama bingung, Lisa terus-menerus meminta Mama membelikannya handphone. Kalau Mama membelikan yang second atau yang murah pasti dia tidak mau.”

“Jangan Ma, jangan Mama belikan. Biarkan dia sadar kalau nggak semua keinginannya bisa dipenuhi, dia harus belajar menjadi dewasa. Kalau Mama turuti semua keinginannya nanti dia bisa tambah manja dan ngelunjak. Jangan dibeliin Ma….”

“Tapi dia terus-terusan nagih, Mama jadi nggak enak.”

“Ma, Mama harus bisa bertindak tegas sama Lisa. Mama terlalu lemah sama Lisa, yah hasilnya gitu. Mama kalau dibujuk dikit aja sama Lisa langsung nurut.”

“Abis Mama nggak tega, Mama kasihan sama dia.”

“Mama nggak bisa terus-terusan kayak gitu, nanti Lisa nggak akan bisa menjadi dewasa kalau diperlakukan seperti itu. Dia harus bisa menerima apa yang ada bukannya selalu menuntut.”

Kevin sangat bertindak tegas dalam hal ini, apa lagi sejak kepergian papanya.

Sore itu Lisa dijemput sekelompok teman sekolahnya.

“Ma.. Lisa mau pergi sama teman-teman.”

“Mau kemana kamu, Lis ?” tanya Kevin.

“Mau ke PH “

“Apa? “

“Ke Planet Hollywood, basi banget sih PH aja nggak tahu. Ma… minta duit dong.”

“Lis, kamu jangan cuma bisa hura-hura aja ya, lebih baik kamu belajar daripada ngeluyur yang cuma ngabisin duit aja. Lebih baik kamu tabung uang itu buat kuliahmu nanti.”

“Ach.. kak Kevin norak banget, Lisa kan perlu refreshing juga.”

“Kamu tuh terlalu banyak refreshing, makanya kalau nggak keluar sehari aja kamu udah nggak betah di rumah. Pokoknya kamu jangan pergi.”

“Ah.. kak Kevin rese banget sih jadi orang, nggak bisa ngeliat orang seneng!”

“Kamu tuh udah terlalu banyak seneng-seneng sehingga ‘gak tahu kalau orang tua itu susah ngebiayain keperluan kamu.”

Lisa tidak berani melawan lagi, karena semenjak kepergian papanya, Kevin-lah yang memegang tanggung jawab keluarga. Kevin selalu bertindak tegas dan bijaksana, ia tidak mau kehidupan Lisa nantinya jadi buruk. Lisa mengurung diri di kamarnya karena kesal, sementara teman-temannya bengong nunggu di luar pagar.

“Lisa, bangun! Kakak mau bicara sama kamu.” Lisa hanya diam.

“Lisa, jangan bikin Kakak marah, Kakak nggak mau pakai kekerasan!!”

“Kak Kevin kenapa lagi sih, Lisa kan nggak jadi pergi.”

“Lisa dengar Kakak! Kamu nggak seharusnya berbuat begitu. Kamu nggak seharusnya banyak menuntut ini- itu dari Mama.”

“Nuntut apaan sih kak?”

“Lisa, kamu harus bisa belajar dewasa. Memang Kakak nggak tahu kalau kamu selalu minta Mama beliin handphone buat kamu.”

“Memangnya kenapa sih? Kak Kevin aja punya.” Lisa menutup wajahnya dengan bantal.

“Lisa, handphone itu Kakak beli dari tabungan Kakak sendiri. Kakak nggak memakai sepeserpun uang Mama

Tagged:
Posted in: CERPEN