ABORSI (BAGIAN 4)

Posted on July 21, 2010

0


Pembantaian Itu Terulang Kembali

Mungkin hingga Tuhan Yesus datang ke dua kali, paradigma tentang masalah aborsi takkan bisa berhenti. Saat ini pembunuhan terhadap bayi-bayi yang “tak berdosa” benar-benar berlangsung secara massal, dari tahun ke tahun jumlahnya terus meningkat, dibawah ini adalah catatan pembantaian yang memilukan.

Pembantaian Bayi-bayi oleh Firaun

Raja Firaun yang gelisah melihat perkembangan umat Israel makin bertambah banyak. Firaun memutuskan untuk menindas umat Israel serta membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir pada masa itu.

“ Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan yang menolong perempuan Ibrani,….katanya” Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir : jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan bolehlah ia tetap hidup.”(Keluaran 1 : 15 – 16)

Pembantaian Bayi-bayi oleh Raja Herodes.

Sejak semula Herodes sudah berniat untuk membunuh Bayi Yesus. Herodes menjadi murka ketika niatnya tersebut diketahui oleh Yusuf lewat perantaraan malaikat. Akibatnya dia memerintahkan pembantaian massal terhadap bayi-bayi di seluruh wilayahnya.

“ ….Lalu  ia menyuruh membunuh semua anak di betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah ,….”(Mat 2 : 16)

Naga Yang Menginginkan Kematian Bayi Seorang Perempuan

Kitab Wahyu banyak berisi gambaran dan perlambang di akhir jaman yang makin lama kebenarannya semakin dibukakan. Dalam Wahyu 12 : 1-6, dikisahkan tentang seorang perempuan yang mengandung. Ia kelihatan cukup menderita hingga berteriak kesakitan ketika hendak melahirkan. Kemudian muncul juga Naga Merah yang hendak menelan anak dari perempuan yang sedang mengandung.

Kitab Wahyu yang ditulis sekitar 20 abad yang lalu ditafsirkan sebagai kitab yang menggambarkan kondisi dunia di akhir jaman. Naga merah yang digambarkan sebagai iblis hendak menelan anak dari perempuan tadi.

“…, Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk melahirkan itu, untuk menelanNya.”(Why 12 : 4)

Beberapa pihak menafsirkan perempuan tersebut sebagai gereja Tuhan di akhir jaman. Dalam pasal 4, kata ganti “Nya” dari anak perempuan tadi ditulis dengan huruf besar. Jika anak tersebut menggambarkan anak-anak Allah yang berperang bagi kerajaan Allah, hal ini bisa dilihat sebagai pengulangan peristiwa pembantaian bayi yang dilakukan oleh Firaun dan Herodes.

Jerman Nazi membuat Undang- Undang yang mengijinkan pemusnahan anggota masyarakat( holocaust) yang “tidak berguna”. Manusia yang tidak dicintai dan tidak diinginkan untuk lahir, dibantai dengan kejam. Mungkin jika paham ini berkembang, dimasa mendatang orang-orang cacat, orang-orang idiot, orang buta dan orang tua akan dimusnahkan juga. Pembantaian terhadap Umat Yahudi pernah juga dilakukan oleh Nazi dibawah pimpinan Hittler. Bagi Hitler orang Yahudi adalah parasit. Bukan pula manusia, melainkan sesuatu yang menjijikkan menurut Dr. August Hirt. Orang Polandia juga dianggap sebagai sampah. Pada tahun 1936, pihak pengadilan Tinggi Jerman menolak untuk mengakui orang-orang Yahudi di Jerman sebagai’manusia’ secara resmi. Tindakan apapun dimungkinkan untuk diperlakukan terhadap orang-orang ini. Menggunakan manusia sebagai kelinci percobaan dianggap sebagai hal yang wajar. Bahkan tubuh manusia dipergunakan sebagai bahan untuk membuat kosmetik.

Hal serupa sedang digenapi di akhir jaman ini. Pelegalan hukum aborsi mengijinkan pembunuhan terhadap bayi-bayi yang bukan hanya dilahirkan oleh keturunan bangsa Yahudi ataupun Ibrani, tapi seluruh ras dan suku mempunyai resiko perlakuan yang sama. Bayi-bayi yang tidak dikehendaki dianggap sebagai parasit oleh kelompok feminis di boston pada tahun 1973. Bahkan menurut Dr. Amital Etzioni, bayi-bayi ini dianggap bukan manusia, melainkan hanyalah suatu jaringan tubuh. Kata ‘orang’ yang tertulis  pada amandemen ke-14 dalam undang-undang di Amerika tidak termasuk bayi yang belum lahir. Sehingga tidak heran jika juru bicara sebuah dewan aborsi menyebutnya sebagai ‘sampah’.

Jika semua negara melegalkan aborsi, tidakkah ini suatu jalan yang sedang dipersiapkan oleh iblis, si Naga Merah untuk melenyapkan keturunan-keturunan Allah secara sistematis?

Pengorbanan Bayi dan Murka Allah yang mengerikan.

Angka aborsi yang mencapai 2,3 juta jiwa pertahun di Indonesia, atau rata-rata 6300 kasus perhari sangatlah memprihatinkan. Hal ini belum  termasuk yang tidak terdata. Kita akan melihat mencoba melihat ilah-ilah dibelakang pembunuhan bayi-bayi ini.

Dalam Kejadian 19 : 33-38, dikisahkan bahwa Lot memiliki dua orang putri. Kedua putirnya ini bersetubuh dengan ayahnya setelah membuatnya mabuk terlebih dahulu, kemudian yang tua melahirkan Moab yang menjadi bapa Moab, sedangkan yang lebih muda melahirkan anak laki-laki yang dinamai Ben-Ami yang kemudian menjadi bani Amon. Jalan pikiran anak-anak Lot sangat dangkal. Dia tidak merundingkan segala sesuatunya dengan Allah. Mungkin merekapun tidak menyangka bahwa keturunannya akan menjadi suatu bangsa besar yang mendatangkan jerat. Bangsa Moab dan bangsa Amon dikisahkan menjadi batu sandungan bagi bangsa Israel.

“ Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan orang Amon.”(1 Raja-raja 11 : 5).

Bangsa Amon melakukan pengorbanan anak-anak. Hal ini dipandang Allah sebagai suatu kejahatan khusus.

“Karena tiga perbuatan bani Amon, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusanku: Oleh karena mereka membelah perut perempuan-perempuan hamil di Gilead, dengan maksud meluaskan daerah mereka sendiri.”(Amos 1 : 13)

Bani Amon bermaksud meluaskan daerah mereka sendiri dengan cara membelah perut perempuan hamil. Undang-undang pelegalan aborsipun ternyata mempunyai tujuan yang sama, yaitu meluaskan daerahnya sendiri. Daerah hawa nafsu manusia. Keinginan daging manusia semakin tak terbatas. Hubungan seks pranikah bukan masalah, toh kalau hamil bisa diaborsi. Seandainya anak-anak Lot tidak bertindak menurut keinginannya, mungkin upacara penyembahan kepada dewa Milkom, serta penyembelihan perut perempuan hamil oleh bangsa Amon tidak akan pernah ada.

Dewa sembahan bani Amon lainnya, yang meminta persembahan nyawa anak-anak, adalah Molokh.

“ Mereka mendirikan bukit-bukit pengorbanan untuk Baal di Lembah Ben-Hinom, untuk mempersembahkan anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan mereka kepada Molokh sebagai korban dalam api,…”

(Yer 32 : 35)

Hal ini jelas-jelas dipandang keji di mata Allah.

“ Aku sendiri akan menentang orang itu dan akan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya, karena ia menyerahkan seorang dari anak-anaknya kepada Molokh,….,Aku sendiri akan menentang orang itu serta kaumnya dan akan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya dan semua orang yang turut berzinah akan mengikuti dia, yakni berzinah dengan menyembah Molokh.”

(Imamat 20 : 3 – 5)

Para pelaku okultisme dan para penyembah berhala berkeyakinan, bahwa pengorbanan darah akan membuat ilah yang disembah itu menjadi semakin muda dan kuat kembali. Jika pandangan ini benar, tentunya Molokh-molokh modern di jaman ini akan semakin berkuasa, sementara pengorbanan bayi secara sistematis dan legal terus berlangsung dijaman ini. Namun Allah sendiri akan menentang dan melenyapkan para penyembah Molokh ini.

Cartage adalah sebuah contoh kota dengan tingkat pengorbanan bayi sangat tinggi pada jaman kerajaan Venesia. Kota ini memiliki peradaban yang sangat maju. Namun para arkeolog menemukan banyak sekali bukti-bukti peristiwa pengorbanan anak di kota ini. Di kota ini ditemukan altar pengorbanan anak, serta gambar-gambar di dinding yang menunjukkan pengorbanan anak kepada Dewa Tanit, nama ritual untuk Asytoret, dewi sembahan bangsa Amon. Ilmu pengetahuan di kota ini bertambah maju, namun peristiwa pengorbanan anak tetap saja bertambah. Ketika Allah menjadi murka terhadap kota ini, apa yang kemudian terjadi? Tentara romawi menghancurkan seluruh peradaban kota ini. Kota yang mungkin terbesar dalam jaman kerajaan Venesia ini kini tinggal puing-puing belaka. Akankah kita menunggu Roma-roma yang lain sehingga bangsa-bangsa yang gemar melkukan aborsi ini dihancurleburkan?(Presentasi video Massacre of Inossence)

Sejak krisis ekonomi melanda beberapa negara termasuk Indonesia tahun 1997 yang lalu, bangsa kita belum sanggup keluar dari krisis ini. Sementara lambat laun negara yang lain mulai bangkit untuk membenahi diri, kelihatannya bangsa kita masih terjebak dalam situasi krisis ekonomi dan politik. Melihat jumlah aborsi rata-rata mencapai 6300 kasus perhari di Indonesia, mungkinkah Allah sedang murka terhadap bangsa ini? Sementara umat Tuhan semakin lamban bergerak untuk bersuara menentang praktek ‘Molokhisme’ modern.

Tagged: , ,
Posted in: ARTIKEL