HARI TERAKHIR

Posted on July 25, 2010

1


HARI TERAKHIR

Apa yang akan kau lakukan jika kau tahu hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia ini?

Menghabiskan waktu bersama orang-orang yang kaucintai? Pergi ke tempat yang menjadi favoritmu? Atau sekedar mengunjungi kafe langganan dan menikmati makanan kesukaanmu untuk terakhir kalinya?

Hampir 6 bulan aku berpikir itulah satu-satunnya cara yang bisa aku lakukan agar aku bisa puas dengan kehidupanku dan bisa pergi dengan tenang, tapi ternyata ada yang kurang.

6 bulan! Begitu vonis dokter hampir 6 bulan yang lalu dan segala cara aku usahakan untuk membuat angka 6 itu bertambah, tapi kata-kata orang pintar dengan gelar dokter itu, itu hanya akan buang-buang tenaga dan jelas, uang. Tak banyak yang bisa dilakukan dengan kanker otak yang menguasaiku.

6 bulan bisa saja menjadi 8 bulan, setahun, tergantung. Mujizat bisa terjadi, berdoa saja…wah, aku baru tahu ternyata dokterpun punya alternaif lain bila tak mampu lagi menangani pasiennya. Disuruh menunggu mujizat, dan berdoa!

Hmmm….kalau saja berdoa semudah memakan pil-pil dan menerima suntikan dari dokter, dengan senang hati aku akan melakukannya. Tapi…jangan kaget, seumumr hidupku, sampai usiaku 23 ini aku tak pernah berdoa. Aku tak kenal Tuhan. Aku tak tahu Dia ada. Temanku yang baru kukenal 2 bulan menyanggahnya.

“Dia seperti matahari, selalu muncul, selalu bercahaya.”

“Dan statis, selalu dari timur ke barat, begitu?”

“Dia setia, tak pernah berubah dengan janjiNya. Selalu pasti, ya dan amin.”

“…”

“Seperti batu karang itu, kokoh, memberi perlindungan pada apa yang  ada di belakangnya.”

“….”

“Seperti…tukang kerajinan keramik,”wah, perumpamaan aneh. “Akan membentukmu, bahkan mengubahmu dengan sempurna.”

Dia  mampu membuatku tertawa, tawa pertamaku hampir 6 bulan ini.

“Aku sudah 23, apa lagi yang mau di ubah? Bagaimana mengubahnya? Itu mustahil!”

“Asal semuanya mau kau serahkan. Hanya hatimu yang perlu diubah. Dan semuanya akan mengikuti.”

Matahari mulai tenggelam, deburan ombak semakin terdengar dan angin semakin kencang menerpa kulitku. Tak banyak orang yang tersisa. Mungkin mereka pulang, membersihkan badan dan beristirahat untuk menyambut hari esok. Tapi aku, apa yang akan aku jelang esok jika aku tahu, deadline kehidupanku besok?

Jika aku tak bisa membuka mata lagi di dunia ini, akankah aku terbangun di dunia lain? Akankah ada kesakitan? Akankah ada api neraka seperti yang di katakan temanku? Aku tak kenal Tuhan, sedang Tuhan yang punya surga. Aku takut dengan kesakitan lain yang tak dapat kubayangkan, tak mau di neraka, tapi tak ada tempat antara surga dan neraka. Aku mau ke surga, dan kata temanku, aku harus terima Tuhan.

Dan aku baru tahu, ternyata mudah untuk menerima Tuhan dan mendapat karcis ke pintu masuk untuk ke surga. Kau mau dengar ini?

Tuhan Yesus, aku tahu sepanjang hidupku aku nggak pernah mengenalMu tapi aku tahu tak pernah terlambat untuk itu. Saat ini aku buka hatiku untuk menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamatku yang hidup. Ampuni segala dosa dan pelanggaranku. Terima kasih Tuhan, Amin. (eirenes, anakmuda.net)

Tagged: ,
Posted in: CERPEN, RENUNGAN