THE ROSE OF AMAZING GRACE – CERPEN

Posted on July 29, 2010

0


THE ROSE OF AMAZING GRACE

Sumi mengamati jari-jari Anie bermain di atas tuts-tuts piano. Tangannya ikut berayun mengikuti irama lagu yang sedang mengalun. Amazing Grace, karya lagu yang begitu mengagumkan itu sudah puluhan kali dimainkan oleh Anie, namun demikian setiap melodinya masih terasa indah di telinga Sumi.

“Bagaimana?” tanya Anie setelah berhenti bermain. “Apakah terlalu cepat?”

“Aku pikir sudah jauh lebih baik”, sahut Sumi seraya mendekati Anie. “Lagu ini indah sekali ya, An. Lagu ini mengingatkan akan anugerah Tuhan yang besar bagiku”, jawab Sumi. Ia menghela nafas sebenar. “Mengenal Yesus adalah sesuatu yang indah dan ajaib. Aku yang tidak ada apa-apanya ini dikasihiNya. Aku bersyukur sekali.”

“Sumi, setiap saat kamu selalu mengajarku bersyukur atas kasih Tuhan yang besar”, kata Anie meraih tangan Sumi. “Kamu anak Tuhan yang baik. Tuhan pasti sayang sekali padamu.”

“Tuhan mengasihi semua orang. Ia juga mengasihimu.” Tangan Sumi mengenggam tangan sahabatnya. “Aku ingin setiap hal yang kita kerjakan dapat menunjukkan kepada orang lain, betapa dalamnya kasih Tuhan kita itu.”

“Iya. Salah satunya dengan menyanyikan pujian ini”, jawab Anie. “Amazing Grace……how sweet the sound…”

“Lagu ini adalah lagu kesukaanku. Kalau aku mati nanti, kamu mainkan lagu ini untukku ya!”, kata Sumi sambil tersenyum.

“Kamu ini ada-ada aja”, ujar Anie memukul lengan Sumi pelan sambil tertawa. “eh, Sum, apakah aku harus ikut lomba itu?” tanya Anie kembali serius. “Aku nggak yakin bisa menang, Sum”

“Percayalah kamu pasti bisa!”, sahut Sumi bersemangat. “Besok kita beli formulirnya ya”, sambungnya.

“Berapa biayanya?”

“Biaya pendaftarannya sih tidak terlalu mahal, hanya dua puluh ribu, tapi kita juga harus memikirkan biaya transportasi dari Malang ke Surabaya”

“Aku nggak punya uang, Sum” Wajah Anie tampak sedih. “Adikku masuk sekolah tahun ini. Tabunganku habis untuk membeli seragam, tas dan buku. Tabungan ibuku cuma cukup untuk uang pendaftaran dan uang SPP bulan pertama”

Sumi merogoh kantong celana jeansnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop putih agak tebal.

“Aku tadi membuka celenganku”, kata Sumi sambil tersenyum senang. “Ternyata lumayan banyak juga. Ada enam puluh tiga ribu. Ini untukmu!” Sumi menyodorkan amplop itu ke Anie.

“Jangan! Aku nggak mau” Anie menggelengkan kepala seraya mendorong kembali tangan Sumi. “Itu kan tabunganmu. Kamu sudah menabung cukup lama. Simpanlah untuk keperluanmu di lain waktu”

“Sudahlah. Aku benar-benar ingin membantumu” Sumi menjejalkan amplop itu ke tangan Sumi. “Jangan kuatir. Aku kan masih bekerja, nanti aku akan menabung lagi”

“Sum, kamu baik”, ucap Anie menatap Sumi dalam-dalam.

“Kalau kamu menang lomba ini, kamu akan menerima beasiswa untuk sekolah musik di Singapore”, kata Sumi dengan mata berbinar-binar. “Aku ingin kamu belajar musik dengan baik. Kelak kamu dapat melayani Tuhan dengan hebat. Mainkan selalu lagu yang indah untuk Tuhan!”

“Thanks ya Sum!”, ucap Anie terharu. Ia tahu betapa tulusnya hati sahabat karibnya itu.

Anie mengenal Sumi sejak lama. Mereka selalu ke Gereja bersama-sama, sama-sama suka membaca, menyanyi dan sama-sama suka makan rujak manis. Anie sering membawakan rujak manis buatan ibunya untuk Sumi.

Biasanya, sepulang sekolah Anie memang membantu ibunya berjualan rujak manis di depan rumah. Dari hasil menjual rujak itulah, Anie dapat duduk sampai di bangku SMP. Tahun ini, ia naik kelas tiga SMP.

Lain halnya dengan Sumi. Ia harus berhenti sekolah dua tahun yang lalu. Penghasilan ayahnya sebagai tukang bangunan tidak mencukupi untuk keperluan mereka sehari-hari. Sumi harus bekerja untuk  membantu aahnya menyekolahkan dua adiknya yang masih SD. Sumi bekerja di sebuah toko yang menjual bunga-bunga segar. Ibu Ribka, pemilik toko itu sangat sayang pada Sumi. Selain jujur, Sumi rajin dan bersemangat sekali dalam bekerja.

Sumi sering membantu ibu Ribka merangkai bunga. Lama kelamaan, ia jadi pandai merangkai bunga sendiri. Bila hari sudah mulai sore dan toko hampir tutup, Sumi suka mencari satu atau dua tangkai bunga mawar untuk dibawa pulang.

“Sebenarnya untuk siapa sih bunga mawar itu, Sum?” goda ibu Ribka ketika Sumi meminta dua mawar merah muda untuk dibawa pulang.

“Untuk sahabatku”, sahut Sumi tersenyum.

“Sahabat apa sahabat?”, sambung ibu Ribka belum puas menggoda.

“Ah, Ibu ini. Ada-ada aja!”, kata Sumi merasa geli. “Ini untuk temanku, Anie. Dia suka sekali bunga mawar. Sebenarnya dia juga menanam mawar di rumahnya, tapi mawarnya nggak pernah berbunga ha..ha…” Sumi tertawa lepas.

Seperti biasa, sore itu sepulang dari toko, Sumi mampir ke rumah Anie.

“Wuah yang ini lebih segar dari yang kemaren”, ujar Anie senang melihat Sumi membawa dua tangkai mawar merah muda untuknya. “Makasih ya!”

“Besok kamu berangkat jam berapa?” tanya Sumi.

“Aku harus sudah ada di sana jam empat sore”, jawab Anie. Telunjuknya menunjuk jam tangan di pergelangan tangan kirinya. “Berarti aku naik bis dari sini kira-kira jam dua belas, sesudah makan siang”

“Kamu tampil jam empat sore?”, tanya Sumi lagi kurang mengerti.

“Lombanya memang dimulai jam empat. Pesertanya banyak dan aku, orang yang paling terakhir mendaftar. Jadi, sepertinya aku tampil agak malam”

“Jam berapa?”

“Kira-kira emh….jam enam”, sahut Anie.

“Aku akan bertepuk tangan paling keras”, ujar Sumi sambil berpura-pura bertepuk tangan. “Kamu mainnya yang bagus ya!”

“Lho, kamu mau mengantarku?”

“Enggak. Besok aku nggak bisa meninggalkan toko. Kamu tahu kan, kalau hari Sabtu banyak orang memesan bunga. Ibu Ribka memberiku ijin pulang lebih cepat. Jam tiga sore, aku naik bis dari sini. Mudah-mudahan, jam enam aku sudah sampai di sana”, kata Sumi menjelaskan.

“Bisa-bisa kamu pulang malam lho, Sum. Apa kamu nggak cape, besok pagi harus pergi kerja pagi-pagi?”, tanya Anie kuatir.

“Kamu nggak mau aku melihatmu di atas panggung?”

“Bukan begitu. Aku cuma…….”

“Sudahlah. Tenang aja”, sela Sumi. “Oh ya, aku baru dapat gajiku untuk minggu ini. Lumayan, untuk ongkos naik bis!”, sambung Sumi cengir.

“Sum, aku takut kalah”, kata Anie. Melihat semangat Sumi, ia jadi ragu tidak mampu memenuhi harapan teman baiknya itu.

“Percayalah! Tuhan akan menolongmu”, kata Sumi mengingatkan. “Tidak penting menang atau kalah, yang jelas kamu sudah berusaha. Selama kita tidak mencuri kemuliaan Tuhan, apa yang kita kerjakan Tuhan pasti berkenan”

“Maukah kamu berdoa untukku?”, tanya Anie memohon.

Sumi mengangguk, lalu mereka berdoa.

Keesokan harinya, Sumi tidak sabar menunggu sore segera tiba. Berkali-kali ia melirik jam di dinding. Syukurlah, banyak pembeli hari itu. Merangkai beberapa karangan bunga membuatnya merasa waktu sedikit cepat berlalu.

Sebelum meninggalkan toko, ia sempat merangkai beberapa mawar kesukaan Anie. Setelah dibungkus dengan plastik bening dan diberi pita, tak lupa ia merekatkan kartu ucapan yang sudah disiapkannya kemarin malam. Tulisan tangannya yang rapi berbunyi :

Kita bertemu, saling mengenal dan saling memberi

Anie suka bunga mawar, Sumi suka “Amazing Grace”

Mawar itu indah, Anugerah Tuhan itu ajaib

Semoga kita dapat menjadi bunga mawar yang indah

Yang selalu memancarkan kasih dan anugerahNya yang ajaib

Jam tiga kurang sepuluh menit, Sumi segera membereskan pekerjaannya. Setelah itu ia bergegas meninggalkan toko. Tidak lama kemudian, ia sudah ada di bis menuju Surabaya.

Di gedung yang penuh dengan penonton, terlihat Anie melangkah perlahan di atas panggung. Ia menuju piano putih berkaki tiga yang terletak pas di tengah-tengah panggung. Ia duduk di atas kursi piano. Tangannya dingin dan jantungnya berdegub kencang. “Tuhan, tolong aku!”, desisnya.

Anie mulai meletakkan jemarinya di atas tuts piano. Sebentar kemudian, terdengar permainan nada-nada yang penuh penghayatan. Setiap hadirin menikmati setiap melogi lagu “Amazing Grace” yang mengalun bagaikan angin yang sejuk di telinga mereka.

Sumi tak jauh dari situ. Lima belas menit yang lalu, ia sudah turun dari bis. Namun ia harus bertanya tiga kali, baru ia yakin jalan ke tempat yang ditujunya. Ia mempercepat langkahnya ketika melihat gedung besar yang ada di seberangnya. “Aku sudah sampai!”, serunya girang seraya berlari kencang menuju gedung itu. Tiba-tiba sebuah mobil kijang biru melesat cepat dari arah kanan. Sumi yang terkejut menjerit keras-keras. Tetapi terlambat, sang supir tidak sempat mengerem lagi. Bruaakkk!

Di dalam gedung, denting piano masih mengalunkan tembang indah “Amazing Grace”. Anie bermain dengan sebaik mungkin. Di telinganya terngiang pesang sahabatnya, “Mainkan selalu lagu yang indah untuk Tuhan!”

Sementara itu, orang-orang di luar sana mulai datang mengerumuni tubuh Sumi yang tergeletak di jalan. Dari hidung dan mulutnya keluar darah segar. Tangan kanannya masih erat menggenggam rangkaian mawar. Beberapa saat sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia tersenyum bahagia. Mungkin karena keinginannya dapat terpenuhi. Pergi ke rumah Bapa dengan diiringi lagu “Amazing Grace” dari kejauhan.

(untuk sahabatku, Anie dan Sumi). J. Liove

Tagged:
Posted in: CERPEN